Blog

Bagaimana kalau saya tidak memiliki waktu untuk Coaching (?)

“Saya mengerti coaching memang penting, tetapi pekerjaan yang lainnya membuat saya tidak punya waktu untuk coaching.”

Nah! Ini kalimat keramat, nih. Hampir semua atasan pernah mengungkapkan kalimat senada. “Coaching dengan melibatkan anak buah dalam percakapan memakan waktu lebih lama ketimbang langsung memberikan solusi. Dan pekerjaan saya tentunya bukan hanya coaching. Masih banyak pekerjaan penting lainnya yang lebih membutuhkan waktu saya!”. Tenang, Anda tidak sendiri. Banyak pemimpin juga memiliki beban pekerjaan yang berat seperti Anda. Tapi, coba bayangkan seperti ini: Kita tidak memiliki waktu untuk coaching. Apakah anak buah akan mampu bila tidak pernah kita coaching? Tentu kurang. Apabila anak buah kurang mampu, apakah kita akan memberikan trust kepada dia untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting? Belum tentu. Akibatnya? Banyak pekerjaan terpaksa kita lakukan sendiri, sehingga ujung-ujungnya kita akan semakin kekurangan waktu bahkan untuk diri kita sendiri. 

Bayangkan apabila Anda mencoba untuk memprioritaskan waktu untuk coaching. Walaupun sepertinya waktu Anda sangat terbatas, tetapi Anda mencoba untuk memprioritaskannya di tengah kesibukan Anda. Ya, mungkin ada hari-hari dimana Anda terpaksa makan siang sambil coaching, atau ada hari-hari dimana Anda terpaksa menambah jam kerja Anda untuk lembur menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang lainnya karena Anda menyelipkan coaching di jam kerja Anda siangnya. Sekalipun sepertinya tiada waktu, tetapi bila kita hendak memprioritaskan sesuatu, pasti menjadi ada waktunya. Masih ingatkan pada saat kita pacaran? Walaupun kegiatan banyak tetapi sepertinya selalu ada waktu untuk bertemu sang pacar. Betul? Jadi, kemana prioritas Anda, di situlah waktu Anda akan mengalir.

Apabila kita memprioritaskan diri untuk coaching, maka anak buah kita tentunya akan lebih mampu. Apabila anak buah kita mampu, apakah kita akan percaya dengan dia? Tentu. Dengan demikian kita akan mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan lebih banyak kepadanya. Dan bila pekerjaan sudah dapat kita delegasikan, maka kita menjadi memiliki waktu untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih strategis lagi. Karena itu, kalau pada awalnya kita tidak hendak memprioritaskan waktu untuk coaching, maka pada akhirnya ternyata kita justru akan kekurangan waktu, bahkan untuk diri sendiri. Tetapi mereka yang berani mencoba memprioritaskan waktu untuk coaching pada akhirnya justru akan dapat menikmati waktu lebih untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang lebih strategis dan mempersiapkan diri untuk jenjang yang lebih tinggi lagi dalam organisasi. Jadi sesungguhnya manfaat coaching bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri.  

Coaching yang dianalogikan dengan cara mengajar seorang bayi berjalan, karena manfaatnya untuk jangka panjang. Kemampuan itu memang dibutuhkan oleh organisasi dalam lingkungan persaingan usaha yang kian hari kian tinggi. Terhadap berbagai perubahan lingkungan usaha tersebut, coaching dianggap sebagai metode yang relatif fleksibel dan adaptif. Didasari fakta bahwa anak buahlah yang paling dekat dengan masalah di lapangan, maka solusi terbaik seyogyanya ditemukan oleh anak buah sendiri.

Dengan metode ‘menemukan sendiri’ solusinya, coaching juga dianggap sebagai metode yang memberdayakan anak buah. Hal ini tentu saja akan berdampak pada peningkatan rasa percaya diri dan tanggung jawab anak buah. 

Dengan metode ‘menemukan sendiri’ solusinya, coaching juga dianggap sebagai metode yang memberdayakan anak buah.

Sejalan dengan itu, atasan menjadi semakin berkurang pekerjaannya untuk terus menuntun anak buah. Melalui coaching pula, atasan bisa secara tidak langsung melakukan kaderisasi terhadap anak buah. Hal ini menguntungkan bagi perusahaan – juga bagi dirinya – manakala suatu ketika perusahaan membutuhkannya untuk posisi yang lebih tinggi (promosi).

Yang terakhir, menurut hasil riset, coaching terbukti memiliki korelasi yang sangat positif dengan kinerja dan komitmen kerja karyawan. Masih menurut hasil riset, pengaruh adanya kompetensi coaching bersama dengan kompetensi mendorong kinerja orang lain, ternyata sangat tinggi pengaruhnya dalam meningkatkan efektivitas seorang pemimpin. 

Dikutip dari “Coaching for Result: Unlocking Human Potential to Achieve Organization’s Performance”, Penulis: Berny Gomulya, Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan BusinessGrowth Team, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018”

 

By: BusinessGrowth

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners