Blog

Mengapa Coaching Belum Efektif? (3)

Mengapa bawahan menjadi kurang mandiri dan tidak berkembang? Berikut ini penyebab selanjutnya:

Atasan Tidak Berelasi Dengan Bawahannya

Dari riset yang dilakukan oleh CO2 Partner seperti dikutip oleh John H. Zenger dalam The Extraordinary Coach, hanya 1 dari 10 bawahan yang mau berbagi dengan atasan langsungnya saat menjumpai masalah. Secara rinci, karyawan meminta saran dari teman dekat dalam organisasinya (24%), senior lain dalam pekerjaan (15%), teman di luar tempat kerja (14%) – seperti yang dilakukan Siska, mentor atau coach (13%), supervisor (11%), pasangan (7%), dan tidak meminta saran dari siapapun (4%).

Ada sederet alasan mengapa bawahan enggan terbuka pada atasannya, seperti :
- “Ah, dia tidak pernah bisa pegang rahasia orang lain.”
- “Saya tidak pernah melihat ada kesatuan antara kata dan perbuatannya.”
- “Dia tidak pernah bisa memahami permasalahan saya.”
- “Dia hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri.”
- “Da selalu kelihatan sibuk, tidak punya waktu untuk saya.”


Relasi dalam dunia kerja memang memiliki keunikan dibandingkan dengan pola relasi dalam keluarga ataupun pertemanan. Dalam relasi keluarga dan pertemanan, aspek emosi lebih dikedepankan, bahkan hal itu menjadi keharusan. Tapi tentu berbeda dari keluarga dan pertemanan, pola relasi di tempat kerja cenderung bersifat rasional. Pola relasi yang dilahirkan pun terbentuk dalam kerangka pola kekuasaan. Kepentingan yang paling dibela adalah kepentingan mereka yang paling berkuasa dalam organisasi atau orang-orang di sekitarnya.
Dalam pola relasi kekuasaan, peluang lahirnya tindakan manipulatif dan diskriminatif sangat besar. Atasan mendapat prioritas untuk dilayani oleh bawahan. Apapun yang dilakukan oleh atasan selalu dianggap benar. Sopan-santun berbahasa dan kode etik komunikasi di tempat kerja hanya menjadi hak atasan dan koleganya. Tetapi hal itu bukan kewajiban, karena menjadi pengecualian dalam komunikasi atasan pada bawahan. Bawahan bisa diperlakukan sangat rendah oleh atasan saat dianggap melanggar aturan perusahaan atau tidak sesuai kemauan atasan.

Tidak mengherankan bila relasi tempat kerja bisa menimbulkan pengalaman traumatis bagi mereka yang belum siap menghadapinya. Persaingan mendapatkan jabatan, tekanan tenggat pekerjaan, dan sejuta alasan lain bisa jadi alasan membenarkan tindak kekerasan (verbal) di tempat kerja oleh atasan pada bawahannya. Hal ini terlihat dari kasus Siska, dimana bawahan gagal berkembang bukan karena banyaknya nasihat, tetapi karena perkataan atasan yang membunuh harga dirinya.

Verbal abuse ini sangat berbahaya, dan sedihnya sering kali tidak disadari oleh seorang atasan. Tidak hanya membunuh harga diri bawahan, verbal abuse tak jarang berimbas pada performa kerja, penghargaan pada atasan, hingga lemahnya engagement dan menguatnya demotivasi. Kesemuanya itu tentu saja sering berujung pada satu hal, melambaikan tangan pada atasan untuk hengkang ke “keluarga baru” yang dinilai dapat lebih mampu menghargai.

David Sturt dalam “The Easiest Thing You Can Do to Be a Great Boss” yang dimuat di Harvard Business Review menuliskan bahwa ada suatu tindakan sederhana yang dapat meningkatkan kesuksesan manajer secara dramatis dalam mendapatkan dukungan dan ikatan dari para bawahan, yaitu mengakui hasil kerja yang baik. Hal tersebut berarti mengapresiasi pencapaian yang istimewa dari para pekerja anda dengan segera – dan melakukan hal tersebut secara konsisten dan tingkatkan secara teratur sejak awal.

Dikutip dari “Coaching for Result: Unlocking Human Potential to Achieve Organization’s Performance”, Penulis: Berny Gomulya, Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan BusinessGrowth Team, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018”

By: BusinessGrowth

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners