Blog

Mengapa Coaching Belum Efektif? (5)

Alasan selanjutnya tentang penyebab Coaching tidak efektif, adalah kenyataan pahit bahwa terkadang Atasan Kurang Memiliki Kecerdasan Emosi. Simak satu peristiwa berikut, yang mungkin juga terjadi di lingkungan kerja kita.
 

Andi kali ini terpaksa memanggil Lisa, salah satu anak buahnya di bagian marketing. Lisa yang biasanya memiliki kinerja penjualan tinggi, kali ini beberapa kali mengalami kegagalan dalam pencapaian target. Tak mau kinerja timnya buruk, Andi berusaha mengkonfirmasi Lisa perihal masalah pencapaiannya tersebut. Tetapi, masalah justru muncul karena cara bicara Andi yang tak ubahnya polisi menginterogasi terdakwa.

Tak ada jeda waktu untuk Lisa berpikir, apalagi bertanya. Bisa ditebak, akhirnya Lisa lebih sering hanya mengiyakan saja perkataan Andi. Di akhir perjumpaan, masalah justru bertambah. Lisa sama sekali tidak puas dan merasa sangat direndahkan oleh Andi. Di sini, bawahan kurang berkembang karena terlalu rasionalnya atasan, yang berinteraksi dengan kurang menggunakan perasaan. Dalam istilah psikologi, mereka kurang miliki kecerdasan emosional. Atau dalam bahasa gaul di sesi curhat antar bawahan, “Bos gue ga punya hati”. Duh!

Seperti sudah lama diramalkan oleh Daniel Goleman yang terkenal dengan Emotional Intelligence, serangkaian penelitian terhadap anak-anak di Amerika Serikat dan beberapa negara di seluruh dunia, menemukan bahwa: “Ketika skor IQ anak-anak semakin tinggi, kecerdasan emosi mereka justru menurun.”. Survei pada akhir tahun 1980-an tersebut dilakukan saat anak-anak berusia tujuh sampai enam belas tahun. Pada tahun 2000-an, usia mereka sekitar 20 tahun, yang artinya di tahun 2014 mereka berada pada usia produktif untuk bekerja (40-45 tahun). Bisakah Anda bayangkan, bila sebagian besar rekan kita (termasuk atasan) adalah orang-orang yang kurang cerdas emosinya?
Sebuah indikator awal yang bisa menjadi petunjuk bahwa suatu pembicaraan tidak dilandaskan oleh kecerdasan emosi, adalah ketika pembicara kehilangan kemampuan mendengarkan lawan bicara. Saat emosi menguasai akal sehatnya, seseorang cenderung kehilangan kemampuan mengendalikan diri sendiri – termasuk kata-kata yang meluncur tanpa ampun dari mulutnya. Orang yang tidak cerdas secara emosi, bisa kehilangan semua unsur kendali dirinya. Ketika seseorang kehilangan kecerdasan emosi, ia kehilangan kesadaran diri, pengendalian terhadap diri, pengendalian terhadap dorongan hati, ketekunan, semangat atau motivasi diri, empati, dan kecakapan sosial.

Ia bisa jadi sangat cerdas secara intelektual, namun kehilangan kemampuan merealisasikan segala potensinya. Ia mungkin sangat tinggi kemampuan akademisnya, namun tidak mampu membangun relasi dengan orang lain dengan sehat. Ia tidak mampu membangun hubungan yang hangat tanpa merusaknya. 

 

Kecerdasan emosi perlu dimiliki oleh setiap orang, termasuk seorang atasan. Hal ini diperlukan karena pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas bawahan. Anda bisa bayangkan bagaimana situasi tempat kerja yang atasannya setiap hari menghardik karyawan dengan kata-kata kasar – secara personal hingga dalam forum terbuka. Ini akan lebih parah jika tidak berhenti hanya di verbal abuse, tapi juga diikuti aksi bantingan pintu sebagai ekspresi kekesalan, suara gebrakan meja, dan banyak ungkapan hati lainnya. Dari tempat kerja seperti ini, sudah bagus jika karyawan menyelesaikan tugas-tugasnya. Tapi agaknya sulit jika mengharapkan prestasi kerja yang tinggi.

Tapi perlu dipahami bahwa kecerdasan emosi tidak hanya berhenti pada “sikap ramah dan nice”, sekalipun nyata-nyata kesalahan dilakukan oleh bawahan. Pada saat-saat tertentu diperlukan sikap tegas (bukan kasar) yang mungkin tidak menyenangkan demi mengungkap kebenaran. Cerdas emosi artinya kita tahu dan mampu bersikap nice dan tough ketika memang situasi mengharuskan demikian. Cerdas secara emosi bukan memberi kebebasan penuh pada perasaan untuk berkuasa. Cerdas secara emosi bukan berarti memanjakan perasaannya, melainkan mengelolanya secara tepat, yang hasil akhirnya diharapkan bisa memungkinkannya untuk bekerja sama dengan orang lain.

Kecerdasan emosi ditunjukkan oleh kemampuan seseorang dalam menguasai dirinya. Pertama, orang yang cerdas secara emosi memiliki keterampilan dalam mengenali emosinya sendiri. Ia mampu menghadapi berbagai tekanan dari luar, tanpa ‘kehabisan’ energinya sendiri. Atau bisa dikatakan, seorang yang cerdas secara emosi lebih mampu untuk tidak bersikap reaktif. Kedua, orang dengan kecerdasan emosi memiliki keterampilan mengenali emosi orang lain. Alih-alih menghakimi, ia bisa lebih mampu memahami perilaku orang lain. Keberhasilan percakapan yang terjadi di dalam ruangan coaching seringkali ditentukan oleh interaksinya di luar ruangan coaching.

Dikutip dari “Coaching for Result: Unlocking Human Potential to Achieve Organization’s Performance”, Penulis: Berny Gomulya, Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan BusinessGrowth Team, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018”

By: BusinessGrowth

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners