Blog

Perbedaan Coaching dan Metode Lainnya (3)

Selain training, mentoring, hingga konsultasi yang telah kita bahas, dalam mengembangkan talent kita juga mengenal konseling.

Konseling

Dalam berbagai sesi coaching, kita sering menemukan metode lain yang mendampinginya, yakni konseling. Sebagai pengantar untuk memahami apa perbedaannya dengan metode coaching, ada baiknya kita melihat kasus berikut.

Rudi adalah karyawan di sebuah perusahaan kecil. Ia merasa hidupnya penuh ketidakpastian. Selama ini hidup Rudi berada di bawah bayang-bayang kakeknya yang ada di masa kecilnya. Kepada Rudi yang masih remaja sang kakek pernah berkata bahwa hidupnya tidak akan sukses. Rudi yang kecewa lalu menenggelamkan dirinya dalam olah raga basket, kegemarannya. Dalam hidup kemudian, Rudi selalu dimotivasi oleh keinginan untuk membuktikan diri – walaupun kakeknya sudah meninggal – bahwa dirinya bisa sukses. Rudi akhirnya memang berhasil dalam karirnya sebagai olahragawan. Sampai suatu saat ia mengalami cedera serius di bagian lututnya. Cedera yang memutuskan harapannya untuk terus berkarir di dunia olah raga. Berakhirnya karir Rudi sebagai olahragawan tak ubahnya seperti putusnya benang layang-layang. Ia tak tahu mesti mengarahkan karirnya kemana. Rudi yang selalu merasa dirinya kurang, tidak pernah percaya diri dalam mencari pekerjaan. Rudi tidak pernah berani membuat target tinggi terkait dengan pekerjaannya. Akibatnya pekerjaan yang didapat hanya cukup membuatnya sekedar bertahan hidup.

Coaching memang bisa berfungsi mendorong seseorang pada pertumbuhan karirnya. Namun metode itu tidak bisa efektif digunakan bila klien memiliki kendala-kendala emosi. Rudi misalnya, mengalami stres sejak kemampuan terbaiknya untuk bermain basket hilang. Sulit bagi Rudi untuk berpikir jernih, sehingga tidak bisa diminta memutuskan sendiri tujuan hidup berikut rencana-rencana tindakannya.

Jika saja stres yang dialami Rudi akibat pilihan-pilihannya terhadap gaya hidup tertentu, metode coaching barangkali bisa membantu. Namun dari cerita di atas jelas stres Rudi ini disebabkan oleh masalah emosi dan cara pikirnya yang dibentuk oleh masa lalu. Alih-alih diajak untuk berpikir mengenai masa depan, Rudi justru membutuhkan bantuan seorang ahli untuk mengurai permasalahannya. Dalam konseling, seorang konselor bisa menangani klien yang bermasalah dengan pikiran, emosi, dan perilaku akibat trauma masa lalu. 

Perbedaan antara keduanya pertama-tama berkaitan dengan dimensi waktu permasalahan klien. Metode konseling digunakan untuk menangani klien yang bermasalah dengan masa lalunya. Konseling lebih tepat diberikan kepada mereka yang kehilangan harapan dan yang perlu digali kesedihannya yang mendalam, sebelum melangkah ke proses yang selanjutnya (Passmore, 2010). Oleh karena itu, masalah Rudi pertama-tama diselesaikan melalui konseling. Sebaliknya, coaching dilakukan bila masalah klien berkaitan dengan masa kini, yang mempengaruhi masa depannya.

Perbedaan selanjutnya menyangkut kesehatan jiwa klien. Pada konseling, klien tengah mengalami masalah dengan trauma masa lalu. Sedangkan pada coaching, kondisi klien relatif sehat. Itu sebabnya pendekatan konseling terkait dengan tujuannya untuk penyembuhan klien. Pada coaching, tujuannya adalah pertumbuhan klien. Misalnya, bagaimana klien bisa merealisasikan potensinya, bagaimana kinerja klien bisa lebih tinggi, dan sebagainya.

 

Ada kesan masalah dalam konseling lebih berat daripada coaching. Klien yang tidak bisa mengalami perbaikan coaching biasanya dirujuk mengikuti konseling untuk mengidentifikasi apakah hambatan berkaitan dengan masa lalunya. Itu sebabnya, untuk menangani konseling diperlukan psikolog setingkat master yang mengalami pelatihan secara intensif selama kurang lebih enam tahun. Sebagai tenaga ahli, psikolog bisa menangani konseling dan coaching sekaligus. Sebaliknya, orang yang menangani coaching belum tentu bisa melakukan konseling.

Perbedaan lainnya terkait dengan mekanisme penanganan klien. Pada konseling, seorang konselor memiliki otoritas yang besar untuk memberikan instruksi dan meminta ketaatan klien untuk mengikuti saran-sarannya. Hal ini berbeda dengan coaching, dimana coach lebih banyak memberi peluang pada klien untuk aktif. Mekanisme dalam coaching lebih banyak menggunakan pertanyaan dan panduan.

Perbedaan terakhir menyangkut strategi yang digunakan. Pada konseling, seorang konselor berusaha untuk menyembuhkan klien dengan memperbaiki sistem keyakinannya, membentuk cara pikir dan perilaku yang sehat, dan menemukan apa tujuan klien diciptakan di dunia. Dalam sesi konseling, konselor lebih banyak membantu klien merumuskan semuanya daripada membiarkan klien melakukannya sendiri.

Ini berbeda dengan metode coaching, dimana kondisi klien relatif lebih sehat. Pada coaching, klien diminta aktif untuk memilih tujuan dan tahap-tahap tindakannya, membuat komitmen, meningkat ke taraf selanjutnya, memaksimalkan potensi, menemukan dan menggenapi kehendak Tuhan dengan menjalankan tugas-tugasnya di dunia. 

Dikutip dari “Coaching for Result: Unlocking Human Potential to Achieve Organization’s Performance”, Penulis: Berny Gomulya, Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan BusinessGrowth Team, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018”

 

By: BusinessGrowth

 

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners