Blog

How to Rebrand Yourself as Creative When You’re Not Perceived That Way (Cara Me-Rebrand Diri......)

The contemporary business world lauds those who are seen as creative. Innovators such as Elon Musk and Jony Ive have become household names. Yet, for many of us, despite our best efforts to be recognized as creative thinkers, our suggestions in meetings are ignored and our pitches to bosses get rebuffed.
(Dunia bisnis kontemporer memuji orang-orang yang dipandang kreatif. Inovator seperti Elon Musk dan Jony Ive telah menjadi nama yang akrab untuk ini. Namun, bagi kebanyakan dari kita, terlepas dari usaha terbaik kita untuk diakui sebagai pemikir kreatif, saran-saran kita dalam meeting diabaikan dan pengajuan kita kepada bos ditolak.)

If your colleagues have already formed an opinion of you as technically competent but a little staid, it’s going to take a lot to change their minds and get them to listen — a situation that’s especially true for women, who, research suggests, are often unfairly viewed as less creative than men.
(Jika kolega Anda telah membentuk opini bahwa Anda kompeten secara teknis tetapi sedikit tenang, akan butuh banyak usaha untuk mengubah pikiran mereka dan membuat mereka untuk mendengarkan - situasi yang terutama berlaku bagi wanita, yang, menurut penelitian, sering dengan tidak adil dipandang kurang kreatif dibandingkan pria.)

Before you can change anyone’s opinion of you, you need to ensure they start taking notice. You won’t get anywhere with subtlety; a few creative flourishes will be easily overlooked if people aren’t primed to search for them. As psychologist and author Heidi Grant told me in an interview, you need to “bombard them with a lot of evidence to suggest that their first impression of you was wrong.” Think about developing a concerted strategy to rebrand using the elements below.
(Sebelum Anda dapat mengubah pendapat siapa pun tentang Anda, Anda harus memastikan bahwa mereka mulai memerhatikan. Anda tidak akan sampai ke mana pun dengan kehalusan; beberapa perkembangan kreatif akan mudah dilupakan jika orang-orang tidak sedang mencari hal itu. Seperti yang dikatakan psikolog dan penulis Heidi Grant kepada saya dalam sebuah wawancara, Anda perlu “membombardir mereka dengan banyak bukti yang menunjukkan bahwa kesan pertama mereka tentang Anda itu salah.” Pikirkan tentang mengembangkan strategi terpadu untuk mengubah citra menggunakan unsur-unsur di bawah ini.)

Begin by associating yourself with the concept of creativity. Follow news developments related to industry or societal trends and read books about the process of creativity, such as David Burkus’s The Myths of Creativity or Michael Michalko’s Cracking Creativity. As you steep yourself in these concepts, they’ll become a part of how you think. Day-to-day incidents will remind you of anecdotes you’ve read, and you’ll start sharing them with colleagues. Over time, people will begin to notice that you’re interested in, and knowledgeable about, creativity.
(Mulailah dengan mengasosiasikan diri Anda dengan konsep kreativitas. Ikuti perkembangan berita yang terkait dengan tren industri atau kemasyarakatan dan baca buku tentang proses kreativitas, seperti bukunya David Burkus, The Myths of Creativity, atau Cracking Creativity dari Michael Michalko. Saat Anda mendalami konsep ini, mereka akan menjadi bagian dari cara Anda berpikir. Insiden sehari-hari akan mengingatkan Anda tentang anekdot yang telah Anda baca, dan Anda akan mulai membagikannya dengan rekan kerja. Seiring waktu, orang-orang akan mulai memerhatikan bahwa Anda tertarik pada dan memiliki pengetahuan tentang kreativitas.)

You can also train yourself to think more creatively, if you’re willing to put in the effort. After all, “creativity” implies coming up with something novel and distinctive, which takes practice. Author James Altucher suggests disciplining yourself to come up with 10 ideas a day — but the first few are always easy. It’s the later ones that require real ingenuity. “Somewhere around idea number six,” he says, “your brain starts to sweat.”
(Anda juga bisa melatih diri untuk berpikir lebih kreatif, jika Anda mau berusaha. Lagipula, "kreativitas" berarti datang dengan sesuatu yang baru dan khas, yang membutuhkan latihan. Penulis James Altucher menyarankan untuk mendisiplinkan diri Anda untuk membuat 10 ide setiap hari - tetapi beberapa ide pertama selalu mudah. Yang berikutnya lah yang membutuhkan kecerdikan sesungguhnya. "Di sekitar ide nomor enam," katanya, "otak Anda mulai berkeringat.")

Note that in order to feel open and confident enough to innovate, you have to ensure you aren’t dwelling too much on past failures or setbacks. Beyond that, research suggests, meditation can help you tap into new insights. Olivia Fox Cabane and Judah Pollack propose a series of steps you can use to access the hypnagogic state, the creatively fertile period that you experience before you fall asleep.
(Perhatikan bahwa untuk merasa terbuka dan cukup percaya diri untuk berinovasi, Anda harus memastikan bahwa Anda tidak terlalu memikirkan kegagalan atau kemunduran di masa lalu. Di luar itu, menurut penelitian, meditasi dapat membantu Anda memasuki wawasan baru. Olivia Fox Cabane dan Judah Pollack mengusulkan serangkaian langkah yang dapat Anda gunakan untuk mengakses keadaan hipnagogik, masa subur yang kreatif yang Anda alami sebelum Anda tertidur.)

Once you’ve developed ideas that you think have promise, you can’t let them languish by waiting until people ask to hear them — they won’t. You need to share your ideas. If opportunities to showcase your interest in innovation arise organically, such as serving on a strategic planning committee, be sure to volunteer and invest yourself in the process.
(Setelah Anda mengembangkan ide yang menurut Anda menjanjikan, Anda tidak bisa membiarkan ide-ide itu merana dengan menunggu sampai ada orang bertanya untuk mendengar ide Anda - mereka tidak akan melakukannya. Anda perlu membagi ide-ide Anda. Jika peluang untuk menunjukkan minat Anda pada inovasi muncul secara organik, seperti melayani komite perencanaan strategis, pastikan Anda menjadi sukarelawan dan menginvestasikan diri dalam prosesnya.)

And remember: You’re wasting your time if you propose your ideas once, and then give up if they’re not embraced immediately. The hidden part of creativity is execution. For your best ideas, marshal the evidence and create a proposal backed by research and data. Even if your boss and colleagues don’t go for it, they’ll have to take note of your initiative and dedication in moving the concept forward.
(Dan ingat: Anda membuang-buang waktu Anda jika Anda mengajukan ide-ide Anda sekali, kemudian menyerah jika tidak langsung diterima. Bagian tersembunyi dari kreativitas adalah eksekusi. Untuk ide terbaik Anda, kumpulkan bukti dan buat proposal yang didukung oleh penelitian dan data. Bahkan jika atasan dan kolega Anda tidak menerimanya, mereka memerhatikan inisiatif dan dedikasi Anda dalam menggerakkan konsep ke depan.)

Finally, it may seem trivial, but it’s worth thinking about your clothing. In a 2013 study, after respondents were exposed to images for just three seconds, they rated a man wearing a bespoke suit as “more confident, successful, flexible, and a higher earner” than a man in an off-the-rack suit. Clearly, clothing choices affect others’ perceptions of us. A different study showed that nonconformist clothing choices, like wearing red sneakers with a suit, can give people the impression that you’re influential and powerful. Some researchers believe that our own behavior is also shaped by what we wear. One study showed that sporting a lab coat made participants more focused and attentive, while additional research suggests that wearing more-formal clothing may aid creativity and abstract thinking.
(Akhirnya, ini mungkin tampak sepele, tetapi ada baiknya memikirkan tentang pakaian Anda. Dalam sebuah studi 2013, setelah responden dipaparkan gambar hanya selama tiga detik, mereka menilai seorang pria mengenakan setelan yang sudah direncanakan lebih dahulu sebagai "lebih percaya diri, sukses, fleksibel, dan berpenghasilan lebih tinggi" daripada seorang pria yang mengenakan setelan apa adanya. Jelas, pilihan pakaian memengaruhi persepsi orang lain terhadap kita. Sebuah penelitian yang berbeda menunjukkan bahwa pilihan busana yang tidak sesuai (nonconformist), seperti mengenakan sepatu kets merah dengan setelan jas, dapat memberi kesan kepada orang bahwa Anda berpengaruh dan kuat. Beberapa peneliti percaya bahwa perilaku kita sendiri juga dibentuk oleh apa yang kita kenakan. Satu penelitian menunjukkan bahwa jas lab membuat peserta lebih fokus dan penuh perhatian, sementara penelitian tambahan menunjukkan bahwa mengenakan pakaian yang lebih formal dapat membantu kreativitas dan pemikiran abstrak.)

Having a reputation for creativity can be a major boon to your career. In fact, a study by Adobe and Forrester Consulting showed that 82% of leaders surveyed saw a strong link between creativity and business results. If you feel your creative potential is being overlooked, it’s worth the time and effort to rebrand yourself. By employing these strategies, you can begin to reinvent yourself and reap the professional benefits.
(Memiliki reputasi untuk kreativitas dapat menjadi anugerah besar bagi karier Anda. Bahkan, sebuah studi oleh Adobe dan Forrester Consulting menunjukkan bahwa 82% dari pemimpin yang disurvei melihat hubungan yang kuat antara kreativitas dan hasil bisnis. Jika Anda merasa potensi kreatif Anda diabaikan, menghabiskan waktu dan upaya untuk mengubah citra diri Anda akan sepadan hasilnya. Dengan menggunakan strategi ini, Anda dapat mulai menemukan kembali diri Anda dan mendapatkan keuntungan profesional.)

 

By: Dorie Clark - The Harvard Business Review 

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.

International Partners