Leadership Is About Emotion (Kepemimpinan Adalah Tentang Perasaan)
Make a list of the 5 leaders you most admire. They can be from business, social media, politics, technology, the sciences, any field. Now ask yourself why you admire them. The chances are high that your admiration is based on more than their accomplishments, impressive as those may be. I’ll bet that everyone on your list reaches you on an emotional level.
(Buatlah daftar 5 pemimpin yang paling Anda kagumi. Mereka bisa berasal dari bisnis, media sosial, politik, teknologi, ilmu, bidang apapun. Sekarang tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda mengagumi mereka. Kemungkinan besar kekaguman Anda didasarkan pada lebih dari sekedar prestasi mereka yang mengesankan. Saya akan bertaruh bahwa semua orang di daftar Anda menyentuh Anda pada tingkat emosional.)
This ability to reach people in a way that transcends the intellectual and rational is the mark of a great leader. They all have it. They inspire us. It’s a simple as that. And when we’re inspired we tap into our best selves and deliver amazing work.
(Kemampuan untuk menjangkau orang-orang dengan cara yang melampaui intelektual dan rasional adalah tanda dari seorang pemimpin besar. Mereka semua memiliki itu. Mereka menginspirasi kita. Sesederhana itu. Dan ketika terinspirasi kita menjadi versi terbaik dari diri kita dan memberikan hasil kerja yang menakjubkan.)
So, can this ability to touch and inspire people be learned? No and yes. The truth is that not everyone can lead, and there is no substitute for natural talent. Honestly, I’m more convinced of this now – I’m in reality about the world of work and employee engagement. But for those who fall somewhat short of being a natural born star (which is pretty much MANY of us), leadership skills can be acquired, honed and perfected. And when this happens your chances of engaging your talent increases from the time they walk into your culture.
(Jadi, apakah kemampuan untuk menyentuh dan menginspirasi orang ini dapat dipelajari? Tidak dan ya. Yang benar adalah bahwa tidak semua orang bisa memimpin, dan tidak ada pengganti untuk bakat alami. Jujur, sekarang saya lebih yakin tentang ini - saya berada dalam realita dunia kerja dan engagement karyawan. Tetapi bagi mereka yang bukan terlahir sebagai pemimpin (yang mana cukup BANYAK dari kita), keterampilan kepemimpinan dapat diperoleh, diasah dan disempurnakan. Dan ketika hal ini terjadi peluang untuk mengerahkan talenta Anda meningkat sedari awal.)

English: Robert Plutchik’s Wheel of Emotions (Photo credit: Wikipedia)
Let’s Take A Look At Tools That Allow For Talent To Shine:
(Mari Melihat Perangkat Yang Membuat Talenta Bersinar:)
Emotional intelligence. Great leaders understand empathy, and have the ability to read people’s (sometimes unconscious, often unstated) needs and desires. This allows them to speak to these needs and, when at all possible, to fulfill them. When people feel they are understood and empathized something, they respond PERIOD and a bond is formed.
(Kecerdasan emosional. Pemimpin besar memahami empati, dan memiliki kemampuan untuk membaca (kadang-kadang tidak sadar, sering tak terucap) kebutuhan dan keinginan masyarakat. Hal ini memungkinkan mereka untuk berbicara atas kebutuhan ini, dan ketika segalanya memungkinkan, memenuhi kebutuhan tersebut. Ketika orang merasa mereka dimengerti dan berempati, mereka merespon PERIODE dan ikatan pun terbentuk.)
Continuous learning. Show me a know-it-all and I’ll show you someone who doesn’t have a clue about being human. Curiosity and an insatiable desire to always do better is the mark of a great leader. They are rarely satisfied with the status quo, and welcome new knowledge and fresh (even if challenging) input. It’s all about investing in yourself.
(Terus belajar. Tunjukkan pada saya seseorang yang tahu-segalanya, dan akan saya tunjukkan seseorang yang tidak paham bagaimana menjadi manusia. Rasa ingin tahu dan keinginan yang tak terpuaskan untuk selalu melakukan yang lebih baik adalah tanda dari seorang pemimpin besar. Mereka jarang puas dengan status quo, dan menyambut pengetahuan baru dan masukan segar (bahkan jika menantang). Ini adalah tentang berinvestasi pada diri sendiri.)
Contextualize. Great leaders respond to each challenge with a fresh eye. They know that what worked in one situation may be useless in another. Before you act, make sure you understand the specifics of the situation and tailor your actions accordingly.
(Menyesuaikan. Pemimpin besar menanggapi setiap tantangan dengan berbinar. Mereka tahu bahwa apa yang berhasil dalam satu situasi mungkin tidak berguna di situasi lain. Sebelum Anda bertindak, pastikan Anda memahami secara spesifik situasinya dan merancang tindakan yang sesuai.)
Let Go. Too many people think leadership is about control. In fact, great leaders inspire and then get out of the way. They know that talented people don’t need or want hovering managers. Leadership is about influence, guidance, and support, not control. Look for ways to do your job and then get out of the way so that people can do theirs.
(Ikhlaskan. Terlalu banyak orang berpikir bahwa kepemimpinan adalah mengenai kendali. Kenyataannya, pemimpin besar menginspirasi kemudian menyingkir. Mereka tahu bahwa orang-orang berbakat tidak menginginkan manajer yang terus membayangi. Kepemimpinan adalah tentang pengaruh, bimbingan, dan dukungan, bukan kontrol. Carilah cara untuk melakukan pekerjaan Anda dan kemudian menyingkir sehingga orang dapat melakukan perannya.)
Honesty. Not a week goes by that we don’t hear about a so-called leader losing credibility because he or she was dishonest. Often this is because of pressure to try and “measure up” and it’s not coming from a place of being real – often this relates to fear of not being accepted for your true self. We live in age of extraordinary transparency, which is reason enough to always be true to your core – your mission will be revealed, your motivations will show by your behaviors. But it goes way beyond this. It’s an issue that sets an example and elevates an organization. If you have a reputation for honesty, it will be a lot easier to deliver bad news and face tough challenges. Are you inspiring people from your heart?
(Kejujuran. Tidak pernah kita tidak mendengar tentang pemimpin yang kehilangan kredibilitas karena tidak jujur. Seringkali hal ini karena tekanan untuk mencoba dan "mengukur" yang tidak nyata - sering ini berkaitan dengan rasa takut akan tidak diterima sebagaimana adanya. Kita hidup di zaman transparansi yang luar biasa, yang merupakan alasan yang cukup untuk selalu jujur kepada diri Anda - misi Anda akan terungkap, motivasi Anda akan ditampilkan oleh perilaku Anda. Tapi ini lebih dari transparasi. Ini adalah masalah yang menetapkan teladan dan mengangkat organisasi. Jika Anda memiliki reputasi untuk kejujuran, maka akan jauh lebih mudah untuk menyampaikan berita buruk dan menghadapi tantangan berat. Apakah Anda menginspirasi orang-orang setulus hati?)
Kindness and respect. Nice leaders (people) don’t finish last. They finish first again and again. Ignorance and arrogance are leadership killers. They’re also a mark of insecurity. Treating everyone with a basic level respect is an absolute must trait of leadership. And kindness is the gift that keeps on giving back. Of course, there will be people who prove they don’t deserve respect and they must be dealt with. But that job will be made much easier, and will have far less impact on your organization, if you have a reputation for kindness, honesty and respect.
(Kebaikan dan rasa hormat. Pemimpin (orang) baik tidak finish belakangan. Mereka finish pertama lagi dan lagi. Ketidaktahuan dan kesombongan adalah pembunuh kepemimpinan. Mereka juga pertanda ketidakamanan. Memperlakukan semua orang dengan hormat merupakan keharusan mutlak sifat kepemimpinan. Dan kebaikan adalah hadiah yang terus kembali pada kita. Tentu saja, akan ada orang yang membuktikan bahwa mereka tidak layak dihormati dan harus dihadapi. Tapi tugas itu akan jauh lebih mudah, dan berdampak jauh lebih sedikit pada organisasi Anda, jika Anda memiliki reputasi untuk kebaikan, kejujuran dan rasa hormat.)
Collaboration. People’s jobs and careers are integral to their lives. The more your organization can make them a partner, the more they will deliver amazing results. This means, to the greatest extent possible, communicating your organization’s strategies, goals and challenges. This builds buy-in, and again is a mark of respect. People won’t be blindsided (which is a workplace culture killer) by setbacks if they’re in the loop.
(Kolaborasi. Pekerjaan dan karir tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Semakin organisasi Anda dapat menjadikan mereka mitra, semakin mereka akan memberikan hasil yang luar biasa. Ini berarti, hingga sejauh mungkin, mengkomunikasikan strategi, tujuan dan tantangan organisasi Anda. Ini membangun buy-in, dan sekali lagi, merupakan tanda penghormatan. Orang tidak akan dikejutkan (yang merupakan pembunuh budaya kerja) oleh kemunduran jika mereka berada dalam lingkaran kolaborasi.)
Partner with your people. As I said above, people’s careers are a big part of their lives. That seems like a no-brainer, but leaders should have it front and center at all times. Find out what your employees’ career goals are and then do everything you can to help them reach them. Even if it means they will eventually leave your organization. You will gain happy, productive employees who will work with passion and commitment, and tout your company far and wide. This an opportunity to brand your greatness.
(Bermitra dengan orang-orang Anda. Seperti yang saya katakan di atas, karier seseorang adalah bagian besar dari kehidupannya. Ini tampaknya mudah, tapi pemimpin harus tahu posisinya setiap saat. Cari tahu apa tujuan karir karyawan Anda, dan kemudian lakukan apa saja untuk membantu mereka mencapainya. Bahkan jika itu berarti mereka akhirnya akan meninggalkan organisasi Anda. Anda akan mendapatkan karyawan yang bahagia dan produktif yang akan bekerja dengan semangat dan komitmen, dan mempromosikan perusahaan Anda jauh dan luas. Ini kesempatan untuk mem-branding kebesaran hati Anda.)
Leadership is both an art and a science. These tools are guidelines, not rigid rules. Everyone has to develop his or her own individual leadership style. Make these tools a part of your arsenal and use them well as you strive to reach people on an emotional level. Be Human. This Matters.
(Kepemimpinan adalah seni sekaligus ilmu. Tools ini adalah panduan, bukan aturan kaku. Setiap orang harus mengembangkan gaya kepemimpinan individunya sendiri. Buatlah tools ini bagian dari persenjataan Anda dan manfaatkanlah selagi Anda berusaha menjangkau orang-orang hingga tingkat emosional. Jadilah Seorang Manusia. Ini Penting.)
By : Meghan M. Biro - Forbes.com
Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.