How Successful People Network with Each Other (Bagaimana Orang Sukses Saling Berhubungan)
As you advance in your career, you have more experience and more connections to draw on for networking. But chances are you’ve also become a lot busier — as have the really successful people you’re now trying to meet. How do you get the attention of people who get dozens of invitations per week and hundreds of emails per day? And how do you find time to network with potential new clients or to recruit new employees when your calendar is packed?
(Sejalan kemajuan karir, Anda memiliki lebih banyak pengalaman dan koneksi untuk membentuk jaringan. Tetapi kemungkinannya Anda lebih banyak kesibukan - seperti orang-orang yang benar-benar sukses yang Anda coba temui sekarang. Bagaimana Anda mendapatkan perhatian dari orang-orang yang mendapatkan puluhan undangan per minggu dan ratusan email per hari? Dan bagaimana Anda menemukan waktu untuk berhubungan dengan klien baru potensial atau untuk merekrut karyawan baru ketika jadwal sudah padat?)
The typical advice that’s given to entry-level employees — Invite people to coffee! Connect with them on LinkedIn! — simply doesn’t work for people at the top of their careers. Instead, you need to leverage an entirely different strategy, something I call “inbound networking.”
(Saran khas yang diberikan kepada karyawan entry-level - Undang orang untuk ngopi! Terhubung lah dengan mereka di LinkedIn! - tidak akan berhasil untuk orang-orang yang berada di puncak karir mereka. Sebaliknya, Anda perlu meningkatkan strategi yang sama sekali berbeda, sesuatu yang saya sebut " inbound networking.”)
In the online world, “inbound marketing” is a term that was popularized about a decade ago by HubSpot cofounders Brian Halligan and Dharmesh Shah. It refers to the practice of creating valuable content, such as articles or podcasts, that draws customers to you directly (as opposed to spending a lot of time on cold calls or paying for advertising to lure them in).
(Di dunia online, " inbound networking.” adalah istilah yang dipopulerkan sekitar satu dekade lalu oleh pendiri HubSpot, Brian Halligan dan Varun Shah. Hal ini mengacu pada praktek membuat konten yang berharga, seperti artikel atau podcast, yang menarik langsung pelanggan pada Anda (kebalikan dari menghabiskan banyak waktu menelpon atau beriklan untuk memikat mereka).)
Networking is facing a similar inflection point. Most professionals are constantly bombarded with Facebook and LinkedIn connection requests, not to mention endless requests to “pick their brain.” Trying to stand out in the midst of that noise is a losing battle, and you probably don’t have time to send a bunch of cold emails anyway.
(Networking menghadapi titik infleksi serupa. Kebanyakan profesional terus-menerus dibombardir dengan permintaan koneksi di Facebook dan LinkedIn, belum lagi permintaan tak terbatas untuk "membagi otak mereka." Mencoba untuk bertahan di tengah-tengah kebisingan itu adalah sia-sia, dan lagipula Anda mungkin tidak memiliki waktu untuk mengirim segepok email penolakan.)
Instead, you can successfully network with the most prominent people by doing something very different from everyone else: attracting them to you with inbound networking. In other words, make yourself interesting enough that they choose to seek you out. Here are three ways to do it.
(Sebaliknya, Anda dapat sukses berhubungan dengan orang-orang yang paling menonjol dengan melakukan sesuatu yang sangat berbeda dari orang lain: menarik mereka kepada Anda dengan inbound networking. Dengan kata lain, membuat diri Anda cukup menarik hingga mereka mencari Anda. Berikut adalah tiga cara untuk melakukannya.)
Identify what sets you apart. One of the fastest ways to build a connection with someone is to find a commonality you share with them (your alma mater, a love of dogs, a passion for clean tech). That’s table stakes. But the way to genuinely capture their interest is to share something that seems exotic to them. It will often vary by context: In a roomful of political operatives, the fact that I was a former presidential campaign spokesperson is nice but not very interesting. But at a political fundraiser populated by lawyers and financiers, that background would make me a very desirable conversation partner.
(Identifikasi apa yang membedakan Anda. Salah satu cara tercepat untuk membangun hubungan dengan seseorang adalah menemukan kesamaan Anda dengan mereka (almamater Anda, kecintaan pada anjing, minat akan teknologi). Itu adalah taruhan. Tapi cara untuk benar-benar menarik minat mereka adalah sesuatu yang tampak langka bagi mereka. Ini bervariasi konteksnya: Dalam sebuah ruangan penuh koperasi politik, fakta bahwa saya adalah mantan juru bicara kampanye presiden adalah hal yang baik tapi tidak cukup menarik. Tetapi pada acara penggalangan dana politik yang dipenuhi oleh pengacara dan pemodal, latar belakang itu akan membuat saya sangat diminati dalam percakapan.)
The more interesting you seem, the more that powerful people will want to seek you out. And yet it can be hard for us to identify what’s most interesting about ourselves; over time, even the coolest things can come to seem banal. Ask your friends to identify the most fascinating elements of your biography, your interests, or your experiences — then do the same for them. At one recent workshop I led, we discovered that one executive had been a ball boy for the U.S. Open tennis tournament in his youth, and one attorney is an avid and regular surfer in the waters of New York City. Both are intriguing enough to spark a great conversation.
(Semakin Anda kelihatan menarik, semakin banyak orang kuat akan ingin mencari Anda. Namun akan sulit bagi kita untuk mengidentifikasi apa yang paling menarik tentang diri kita sendiri; dari waktu ke waktu, bahkan hal-hal paling keren bisa tampak dangkal. Minta teman Anda untuk mengidentifikasi elemen yang paling menarik dari biografi Anda, minat Anda, atau pengalaman Anda - kemudian lakukan hal yang sama untuk mereka. Pada satu workshop terbaru yang saya pimpin, kami menemukan bahwa salah satu eksekutif pernah menjadi ball boy untuk turnamen tenis US Open di masa mudanya, dan satu pengacara adalah avid dan peselancar di perairan New York City. Keduanya cukup membuat penasaran untuk memicu percakapan seru.)
Become a connoisseur. Almost nothing elicits more interest than genuine expertise. If someone is drawn to a topic that you’re knowledgeable about, you’ll move to the top of their list. Since publishing my books, I’ve had innumerable colleagues seek me out to get advice about finding an agent or fine-tuning their manuscripts.
(Menjadi seorang ahli. Hampir tidak ada yang lebih memunculkan minat daripada keahlian asli. Jika seseorang tertarik pada topik yang Anda kuasai, posisi Anda akan naik dalam “daftar” mereka. Sejak penerbitan buku-buku saya, sudah tak terhitung kolega mencari saya untuk mendapatkan saran tentang menemukan agen atau melihat naskah mereka.)
But sometimes it’s even better when your expertise is outside the fold of your profession. Richard, a financial journalist I profiled in my book Reinventing You, was able to build better and deeper relationships with his sources after he started to write part-time about food and wine. He discovered that his Wall Street contacts would proactively call him up to get information about hot new restaurants or the best places to entertain their clients.
(Tapi kadang-kadang akan lebih baik jika keahlian itu di luar profesi Anda. Richard, seorang jurnalis keuangan yang saya tulis di buku saya Reinventing You, mampu membangun hubungan yang lebih baik dan dalam dengan kemampuannya setelah ia mulai menulis paruh waktu tentang makanan dan anggur. Ia menemukan bahwa koneksi Wall Street-nya secara proaktif akan meneleponnya untuk mendapatkan informasi tentang restoran keren baru atau tempat terbaik untuk menjamu klien mereka.)
You can also use nontraditional expertise to build multidimensional connections. Bill Gates and Warren Buffett could certainly have a decent conversation about business. But it’s their expert-level seriousness about the card game bridge that cemented their bond, eventually leading to Buffett’s decision to entrust billions to the Bill & Melinda Gates Foundation.
(Anda juga dapat menggunakan keahlian non-tradisional untuk membangun koneksi multidimensi. Bill Gates dan Warren Buffett tentu bisa memiliki percakapan yang layak tentang bisnis. Tapi keseriusan level-ahli permainan bridge lah yang mengikat mereka, yang akhirnya menggiring pada keputusan Buffett untuk mempercayakan miliaran dana ke Bill & Melinda Gates Foundation.)
When you’re an expert in a given niche, you can often connect on a level playing field with people who, under other circumstances, might be out of reach. One friend of mine, a corporate executive who produces jazz records on the side, recently got invited to the home of an internationally famous rock star as Grammy campaign season heated up.
(Bila Anda ahli dalam hal tertentu, Anda seringkali dapat terhubung pada tingkat tidak serius dengan orang-orang yang – dalam keadaan lain, mungkin “di luar jangkauan”. Salah satu teman saya, seorang eksekutif perusahaan yang sebagai sampingan memproduksi album musik jazz, baru-baru ini diundang ke rumah seorang bintang rock terkenal secara internasional saat musim kampanye Grammy memanas.)
If you know a lot about wine, or nutrition, or salsa dancing, or email marketing, or any of a million other subjects, people who care about that topic are sure to be interested in what you have to say.
(Jika Anda tahu banyak tentang anggur, atau gizi, atau menari salsa, atau pemasaran via email, atau satu dari jutaan pelajaran lain, orang-orang yang peduli tentang topik tersebut pasti akan tertarik pada apa yang Anda katakan.)
Become the center of the network. It’s not easy to build a high-powered network if you’re not already powerful. But New York City resident Jon Levy took the position that the best way to get invited to the party is to host the party. Nearly six years ago, he started hosting twice-monthly “Influencers” dinner gatherings, featuring luminaries in different fields. Levy’s gatherings now attract a guest roster of Nobel laureates and Olympic athletes. But he certainly didn’t start there.
(Menjadi pusat jaringan. Tidak mudah untuk membangun jaringan bertenaga tinggi jika Anda belum kuat. Tapi warga New York City, Jon Levy memposisikan bahwa cara terbaik agar diundang ke pesta adalah menjadi tuan rumah pesta. Hampir enam tahun lalu, ia mulai memandu pertemuan makan malam "Influencer" dua kali sebulan, menampilkan tokoh-tokoh dalam berbagai bidang. pertemuan Levy sekarang menarik daftar tamu dari pemenang Hadiah Nobel dan atlet Olimpiade. Tapi tentunya dia tidak mulai dari sana.)
Begin by inviting the most interesting professionals you know and asking them to recommend the most interesting people they know, and over time you can build a substantial network. At a certain point you’ll gain enough momentum that professionals who have heard about the dinners will even reach out to ask for an invitation. As Levy joked to one publication, “One day, I hope to accomplish something worthy of an invite to my own dinner.” When you’re the host, pulling together a great event liberates you to invite successful people who you might not normally consider your peers but who embrace the chance to network with other high-quality professionals.
(Mulailah dengan mengundang para profesional yang paling menarik yang Anda kenal dan meminta mereka untuk merekomendasikan orang-orang yang paling menarik yang mereka kenal, dan dari waktu ke waktu Anda dapat membangun jaringan yang cukup besar. Pada titik tertentu Anda akan mengumpulkan momentum yang cukup hingga para profesional yang telah mendengar tentang acara tersebut justru minta diundang. Seperti canda Levy pada satu publikasi, "Suatu hari, saya berharap mencapai sesuatu yang membuat saya layak mendapat undangan makan malam." Bila Anda penyelenggaranya, mengadakan sebuah acara besar membebaskan Anda untuk mengundang orang-orang sukses yang umumnya bukan Anda anggap rekan, tetapi yang memiliki peluang untuk terhubung dengan profesional berkualitas tinggi lainnya.)
I’ve also hosted more than two dozen dinner parties to broaden my network and meet interesting people. But that’s certainly not the only way to connect. These days, any professional who makes the effort to start a Meetup or Facebook group that brings people together could accomplish something similar.
(Saya juga menjadi tuan rumah lebih dari dua lusin pesta makan malam untuk memperluas jaringan dan bertemu orang yang menarik. Tapi itu tentu bukan satu-satunya cara untuk berhubungan. Di masa ini, setiap profesional yang berupaya memulai sebuah pertemuan kelompok atau grup Facebook yang mengumpulkan orang bisa mencapai sesuatu yang serupa.)
The world is competing for the attention of the most successful people. If you want to meet them — and break through and build a lasting connection — the best strategy is to make them come to you. Identifying what’s uniquely interesting about you and becoming a connoisseur and a hub are techniques that will ensure you’re sought after by the people you’d most like to know.
(Dunia bersaing untuk menarik perhatian orang-orang yang paling sukses. Jika Anda ingin bertemu dengan mereka - dan menerobos dan membangun koneksi abadi - strategi terbaik adalah membuat mereka yang datang kepada Anda. Mengidentifikasi apa yang unik menarik tentang Anda dan menjadi ahli dan penghubung adalah teknik yang akan memastikan Anda dicari oleh orang-orang paling Anda ingin kenal.)
By : Dorie Clark - The Daily Alert from Harvard Business Review
Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.