Blog

How to Make Yourself Work When You Just Don’t Want To (Cara “memaksa” diri Anda...)

There’s that project you’ve left on the backburner – the one with the deadline that’s growing uncomfortably near. And there’s the client whose phone call you really should return – the one that does nothing but complain and eat up your valuable time. Wait, weren’t you going to try to go to the gym more often this year?
(Ada proyek yang Anda biarkan berkembang menjadi bahaya - proyek dengan batas waktu yang sangat dekat. Dan ada klien yang panggilan teleponnya benar-benar harus Anda balas - klien yang hanya mengeluh dan memakan waktu berharga Anda. Tunggu dulu, bukankah Anda mencoba pergi ke gym lebih sering tahun ini?)

 

Can you imagine how much less guilt, stress, and frustration you would feel if you could somehow just make yourself do the things you don’t want to do when you are actually supposed to do them? Not to mention how much happier and more effective you would be?
(Dapatkah Anda bayangkan berkurangnya rasa bersalah, stres, dan frustrasi akan Anda rasakan jika Anda entah bagaimana bisa membuat diri Anda melakukan hal-hal yang Anda tidak ingin lakukan,saat Anda benar-benar harus melakukannya? Belum lagi seberapa lebih bahagia dan efektif Anda jadinya?)

The good news (and its very good news) is that you can get better about not putting things off, if you use the right strategy. Figuring out which strategy to use depends on why you are procrastinating in the first place:
(Kabar baiknya (dan memang sangat baik) adalah bahwa pengabaian Anda bisa membaik, jika Anda menggunakan strategi yang tepat. Mencari tahu strategi mana untukdigunakan tergantung pada asal mula Anda menunda-nunda:)

Reason #1 You are putting something off because you are afraid you will screw it up.

(Alasan # 1 Anda mengabaikan sesuatu dari karena Anda takut akan mengacaukannya.)


Solution: Adopt a “prevention focus.”
(Solusi: Mengadopsi “fokuspencegahan”)

There are two ways to look at any task. You can do something because you see it as a way to end up better off than you are now – as an achievement or accomplishment. As in, if I complete this project successfully I will impress my boss, or if I work out regularly I will look amazing. Psychologists call this a promotion focus – and research shows that when you have one, you are motivated by the thought of making gains, and work best when you feel eager and optimistic. Sounds good, doesn’t it? Well, if you are afraid you will screw up on the task in question, this is not the focus for you. Anxiety and doubt undermine promotion motivation, leaving you less likely to take any action at all.
(Ada dua cara dalam memandang tugas apapun. Anda dapat melakukan sesuatu karena Anda melihatnya sebagai cara menjadi lebih baik daripada Anda sekarang - sebagai sebuah prestasi atau pencapaian. Seperti, jika saya menyelesaikan proyek ini dengan sukses saya akan membuat bos terkesan, atau jika saya olah raga secara teratur saya akan terlihat luar biasa. Psikolog menyebutnya fokus promosi - dan penelitian menunjukkan bahwa ketika Anda memilikinya, Anda termotivasi oleh pikiran akan mendapat keuntungan, dan bekerja dengan baik ketika Anda merasa bersemangat dan optimis. Kedengarannya bagus, bukan? Nah, jika Anda takut Anda akan mengacaukan tugas bersangkutan, ini bukan fokus. Kecemasan dan keraguan melemahkan motivasi promosi, membuat Anda cenderung enggan mengambil tindakan sama sekali.)

What you need is a way of looking at what you need to do that isn’t undermined by doubt – ideally, one that thrives on it. When you have a prevention focus, instead of thinking about how you can end up better off, you see the task as a way to hang on to what you’ve already got – to avoid loss. For the prevention-focused, successfully completing a project is a way to keep your boss from being angry or thinking less of you. Working out regularly is a way to not “let yourself go.” Decades of research, which I describe in my book Focus, shows that prevention motivation is actually enhanced by anxiety about what might go wrong. When you are focused on avoiding loss, it becomes clear that the only way to get out of danger is to take immediate action. The more worried you are, the faster you are out of the gate.
(Yang Anda butuhkan adalah cara untuk melihat apa yang perlu Anda lakukan yang tidak dirusak oleh keraguan - idealnya, yang tumbuh subur di atasnya. Saat Anda memiliki fokus pencegahan, bukan berpikir tentang bagaimana Anda dapat menjadi lebih baik, Anda melihat tugas sebagai cara untuk bertahan pada apa yang sudah Anda punya - untuk menghindari kerugian. Untuk berfokus padapencegahan, berhasil menyelesaikan sebuah proyek adalah cara untuk mencegah bos Anda marah atau menilai Andakurang. Berolahraga secara teratur adalah cara untuk tidak “membiarkan diri Andalepas.” Puluhan tahun penelitian, yang saya jelaskan dalam buku saya Focus, menunjukkan bahwa motivasi pencegahan sebenarnya ditingkatkan oleh kecemasan tentang apa yang mungkin salah. Ketika Anda berfokus pada menghindari kerugian, semakin jelas bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari bahaya adalah dengan mengambil tindakan segera. Semakin Andakhawatir, semakin cepat Anda keluar (dari masalah)).

I know this doesn’t sound like a barrel of laughs, particularly if you are usually more the promotion-minded type, but there is probably no better way to get over your anxiety about screwing up than to give some serious thought to all the dire consequences of doing nothing at all. Go on, scare the pants off yourself. It feels awful, but it works.
(Saya tahu ini terdengar tidak menyenangkan, terutama jika Anda biasanya lebih promotion-minded, tapi mungkin tidak ada cara yang lebih baik untuk melupakan kecemasan Anda (tentang mengacaukan tugas) daripada serius memikiran semua konsekuensi mengerikan dari tidak melakukan apa-apa. Silahkan, takuti diri sendiri. Rasanya mengerikan, tetapi berhasil.)

Reason #2 You are putting something off because you don’t “feel” like doing it.
(Alasan # 2 Anda mengabaikan sesuatu karena “merasa tidak ingin” melakukannya.)

Solution: Make like Spock and ignore your feelings. They’re getting in your way.
(Solusi: Buatlah seperti Spock dan abaikan perasaan Anda. Mereka menghalangi Anda.)

In his excellent book The Antidote: Happiness for People Who Can’t Stand Positive Thinking, Oliver Burkeman points out that much of the time, when we say things like “I just can’t get out of bed early in the morning, ” or “I just can’t get myself to exercise,” what we really mean is that we can’t get ourselves to feel like doing these things. After all, no one is tying you to your bed every morning. Intimidating bouncers aren’t blocking the entrance to your gym. Physically, nothing is stopping you – you just don’t feel like it. But as Burkeman asks, “Who says you need to wait until you ‘feel like’ doing something in order to start doing it?”
(Dalam bukunya yang sangat bagus The Antidote: Happiness for People Who Can’t Stand Positive Thinking, Oliver Burkeman menunjukkan bahwa sering kali, ketika kita mengatakan hal-hal seperti “aku tidak bisa bangun dari ranjang di pagi hari,” atau “aku tidak bisa berolahraga” yang benar-benar kita maksud adalah bahwa kita tidak bisa membuat diri kita merasa ingin melakukannya. Lagipula, tidak ada yang mengikat Anda ke ranjang setiap pagi. Tidak ada penggangguyang mengintimidasi memblokir pintu masuk ke gym. Secara fisik, tidak ada yang menghentikan Anda - Anda hanya merasa tidak ingin. Tapi seperti pertanyaanBurkeman, “Siapa bilang Anda harus menunggu sampai Anda merasa ingin melakukan sesuatu untuk mulai melakukannya?”)

Think about that for a minute, because it’s really important. Somewhere along the way, we’ve all bought into the idea – without consciously realizing it – that to be motivated and effective we need to feel like we want to take action. We need to be eager to do so. I really don’t know why we believe this, because it is 100% nonsense. Yes, on some level you need to be committed to what you are doing – you need to want to see the project finished, or get healthier, or get an earlier start to your day. But you don’t need to feel like doing it.
(Pikirkan sebentar tentang ini, karena ini benar-benar penting. Suatu saat, kita semua mendapat gagasan - tanpa secara sadar menyadarinya–bahwa untuk termotivasi dan menjadi efektif kita perlu merasa ingin mengambil tindakan. Kita harus bersemangat melakukannya. Saya benar-benar tidak tahu mengapa kitamempercayainya, karena itu adalah 100% omong kosong. Ya, pada beberapa tingkat Anda harus berkomitmen atas apa yang Anda lakukan - Anda perlu ingin melihat proyek selesai, atau menjadi lebih sehat, atau memulai hari lebih awal. Tapi Anda tidak perlu merasa ingin melakukan hal itu.)

In fact, as Burkeman points out, many of the most prolific artists, writers, and innovators have become so in part because of their reliance on work routines that forced them to put in a certain number of hours a day, no matter how uninspired (or, in many instances, hungover) they might have felt. Burkeman reminds us of renowned artist Chuck Close’s observation that “Inspiration is for amateurs. The rest of us just show up and get to work.”
(Nyatanya, seperti yang ditunjukkan Burkeman, banyak seniman, penulis, dan inovator yang paling produktif menjadi demikian karena ketergantungan mereka pada rutinitas pekerjaan yang memaksa mereka memasukkan sekian jam sehari, tidak peduli seberapa bersemangat ( atau, dalam banyak kasus, pusing) mereka merasa. Burkeman mengingatkan kita observasi seniman terkenal Chuck Close bahwa “Inspirasi adalah untuk amatir. Sisanya kita hanya datang dan mulai bekerja.”)

So if you are sitting there, putting something off because you don’t feel like it, remember that you don’t actually need to feel like it. There is nothing stopping you.
(Jadi jika Anda duduk di sana, mengabaikan sesuatu karena Anda tidak merasa ingin, ingat bahwa Anda tidak benar-benar perlu merasa seperti itu. Tidak ada yang menghentikan Anda.)

Reason #3 You are putting something off because it’s hard, boring, or otherwise unpleasant.
(Alasan # 3 Anda mengabaikan sesuatu karena sulit, membosankan, atau tidak menyenangkan.)

Solution: Use if-then planning.
(Solusi: Gunakan perencanaan jika-maka.)

Too often, we try to solve this particular problem with sheer will: Next time, I will make myself start working on this sooner. Of course, if we actually had the willpower to do that, we would never put it off in the first place. Studies show that people routinely overestimate their capacity for self-control, and rely on it too often to keep them out of hot water.
(Terlalu sering, kita mencoba untuk memecahkan masalah tertentu dengan kemauan belaka: Lain kali, aku akan memaksa diriku mulai mengerjakannya lebih cepat. Tentu saja, jika kita benar-benar memiliki kemauan untuk melakukan itu, kita tidak akan pernah menundanya sejak awal. Studi menunjukkan bahwa orang secara rutin melebih-lebihkan kemampuan pengendalian dirimereka, dan terlalu sering mengandalkannya untuk menjauhkan mereka dari kesulitan.)

Do yourself a favor, and embrace the fact that your willpower is limited, and that it may not always be up to the challenge of getting you to do things you find difficult, tedious, or otherwise awful. Instead, use if-then planning to get the job done.
(Bantulah diri Anda sendiri, dan terima kenyataan bahwa kemauan Anda terbatas, dan bahwa hal itu mungkin tidak selalu siap akan tantangan untuk membuat Anda melakukan hal-hal yang bagi Andasulit, membosankan, atau sebaliknya mengerikan. Sebaliknya, gunakan rencana jika-maka untuk menyelesaikan pekerjaan.)

Making an if-then plan is more than just deciding what specific steps you need to take to complete a project – it’s also deciding where and when you will take them.
(Membuat rencana jika-maka lebih dari sekedar memutuskan apa langkah-langkah spesifik yang perlu Anda ambil untuk menyelesaikan sebuah proyek - juga memutuskan di mana dan kapan Anda akan melakukannya.)

If it is 2pm, then I will stop what I’m doing and start work on the report Bob asked for.
(Jika sekarang jam 2:00, maka saya akan menghentikan apa yang saya lakukan dan mulai mengerjakan laporan yang Bob minta.)

If my boss doesn’t mention my request for a raise at our meeting, then I will bring it up again before the meeting ends.
(Jika bos saya tidak menyebutkan permintaan saya untuk kenaikan gaji pada pertemuan kami, maka saya akan menyinggungnya lagi sebelum pertemuan berakhir.)

By deciding in advance exactly what you’re going to do, and when and where you’re going to do it, there’s no deliberating when the time comes. No do I really have to do this now?, or can this wait till later? or maybe I should do something else instead. It’s when we deliberate that willpower becomes necessary to make the tough choice. But if-then plans dramatically reduce the demands placed on your willpower, by ensuring that you’ve made the right decision way ahead of the critical moment. In fact, if-then planning has been shown in over 200 studies to increase rates of goal attainment and productivity by 200%-300% on average.
(Dengan memutuskan di awalsecara tepat apa yang akan Anda lakukan, dan kapan dan di mana Anda akan melakukannya, tidak ada perundingan ketika saatnya tiba. Tidak ada “apa saya benar-benar harus melakukan ini sekarang?”, atau “dapatkah ini menunggu sampai nanti?” atau “mungkin saya harusnya melakukan sesuatu yang lain”. Ketika kita bicarakanlah kemauan menjadi perlu untuk membuat pilihan yang sulit. Tapi rencana jika-maka secara dramatis mengurangi tuntutan pada kemauan Anda, dengan memastikan bahwa Anda telah membuat keputusan yang tepat jauh sebelum saat-saat kritis. Bahkan, perencanaan jika-maka telah terbukti di lebih dari 200 studi meningkatkan tingkat pencapaian tujuan dan produktivitas dengan 200% -300% rata-rata.)

I realize that the three strategies I’m offering you – thinking about the consequences of failure, ignoring your feelings, and engaging in detailed planning – don’t sound as fun as advice like “Follow your passion!” or “Stay positive!” But they have the decided advantage of actually being effective – which, as it happens, is exactly what you’ll be if you use them.
(Saya menyadari bahwa tiga strategi yang saya tawarkan - memikirkan konsekuensi kegagalan, mengabaikan perasaan Anda, dan terlibat dalam perencanaan rinci - tidak terdengar semenyenangkan saran “Ikuti gairah Anda!” Atau “Tetap lah positif!” tetapi mereka bermanfaat untuk benar-benar memutuskan untuk menjadi efektif - yang, seperti yang terjadi, adalah akan menjadi apa Anda jika Anda menggunakannya.)

 

By : Heidi Grant Halvorson - The Daily Harvard Business Review

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners