6 Ways to Look More Confident During a Presentation (6 Cara untuk Tampak Lebih Percaya Diri......)
Several years ago, colleagues and I were invited to predict the results of a start-up pitch contest in Vienna, where 2,500 tech entrepreneurs were competing to win thousands of euros in funds. We observed the presentations, but rather than paying attention to the ideas the entrepreneurs were pitching, we were watching the body language and microexpressions of the judges as they listened.
(Beberapa tahun yang lalu, saya dan rekan-rekan diundang untuk memprediksihasil sebuah kontes pitch pemuladi Wina, dimana 2.500 pengusaha teknologi bersaing untuk memenangkan pendanaanribuan euro. Kami mengamati presentasi, tapi bukannya memperhatikan gagasan yang diajukan pengusaha, kami mengamati bahasa tubuh dan ekspresi mikro para jurisaat mereka mendengarkan.)
We gave our prediction of who would win before the winners were announced and, as we and the audience soon learned, we were spot on. We had spoiled the surprise.
(Kami memberikan prediksi siapa yang akan menang sebelum pemenang diumumkan dan, seperti yang kami dan penonton segera pelajari, kami tepat sasaran. Kami telah merusak kejutannya.)
Two years later we were invited back to the same event, but this time, instead of watching the judges, we observed the contestants. Our task was not to guess the winners, but to determine how presenters’ non-verbal communication contributed to their success or failure.
(Dua tahun kemudian kami kembali diundang menyaksikan acara yang sama, tapi kali ini kami mengamati para kontestan, bukan juri. Tugas kamibukanlah menebak para pemenang, tapi menentukan bagaimana komunikasi non-verbal presenter berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan mereka.)
We evaluated each would-be entrepreneur on a scale from 0-15. People scored points for each sign of positive, confident body language, such as smiling, maintaining eye contact, and persuasive gesturing. They lost points for each negative signal, such as fidgeting, stiff hand movements, and averted eyes. We found that contestants whose pitches were rated in the top eight by competition judges scored an average of 8.3 on our 15-point scale, while those who did not place in that top tier had an average score of 5.5. Positive body language was strongly correlated with more successful outcomes.
(Kami mengevaluasi masing-masing calon pengusaha dalam skala 0-15. Merekamencetak poin untuk setiap bahasa tubuh positif dan percaya diri, seperti tersenyum, menjaga kontak mata, dan gesturpersuasif. Mereka kehilangan poin untuk setiap sinyal negatif, seperti gelisah, gerakan tangan kaku, dan menghindari kontak mata. Kami menemukan bahwa kontestan yang dinilai masukperingkat delapan besar oleh jurimencetak rata-rata 8,3 poin pada penilaian skala 15 kami, sementara mereka yang tidak menempati peringkat teratas tersebut memiliki skor rata-rata 5,5. Bahasa tubuh positif sangat berkorelasi dengan hasil yang lebih sukses.)
We’ve found similar correlations in the political realm. During the 2012 U.S. Presidential election, we conducted an online study in which 1,000 participants—both Democrats and Republicans—watched two-minute video clips featuring Barack Obama and Mitt Romney at campaign events delivering both neutral and emotional content. Webcams recorded the viewers’ facial expressions, and our team analyzed them for six key emotions identified in psychology research: happy, surprised, afraid, disgusted, angry, and sad. We coded for the tenor of the emotion (positive or negative) and how strongly it seem to be expressed. This analysis showed that Obama sparked stronger emotional responses and fewer negative ones. Even a significant number of Republicans—16%— reacted negatively to Romney. And when we analyzed the candidates’ body language, we found that the President’s resembled those of our pitch contest winners. He displayed primarily open, positive, confident positions congruent with his speech. Romney, by contrast, often gave out negative signals, diminishing his message with contradictory and distracting facial expressions and movement.
(Kami telah menemukan korelasi serupa di ranah politik. Selama pemilihan Presiden A.S. tahun 2012, kami melakukan studi online di mana 1.000 peserta - baik dari partai Demokrat maupun Republik - menonton video klip dua menit yang menampilkan Barack Obama dan Mitt Romney pada acara-acara kampanye yang membawakankonten netral dan emosional. Webcam merekam ekspresi wajah pemirsa, dan tim kami menganalisis mereka untuk enam emosi kunci yang diidentifikasi dalam penelitian psikologi: bahagia, terkejut, takut, jijik, marah, dan sedih. Kami mengkodekan tenor emosi (positif atau negatif) dan seberapakuatnya emosiitu ditunjukkan. Analisis ini menunjukkan bahwa Obama memicu respon emosional yang lebih kuat dan sedikit respon negatif. Bahkan sejumlah besar Republikan-16% - bereaksi negatif terhadap Romney. Dan ketika kami menganalisis bahasa tubuh kandidat, kami menemukan bahwa (mantan) PresidenObamaserupadengan pemenang kontes pitchkami. Dia menampilkan terutama posisi terbuka, positif, dan percaya diriyangkongruen dengan pidatonya.Romney, sebaliknya, sering memberi sinyal negatif, mengurangi pesannya dengan ekspresi wajah dan gerakan yang kontradiktif dan mengganggu.)
Of course, the election didn’t hinge on body language. Nor did the results of the start-up competition. But the right kinds of non-verbal communication did correlate with success.
(Tentu saja pemilihan tidak bergantung pada bahasa tubuh. Tidak pula denganhasil kompetisi start-up. Tapi komunikasi non verbal yang tepat memang berkorelasi dengan kesuksesan.)
How can you send out the same signals—and hopefully generate the same success? At the Center for Body Language, we’ve studied successful leaders across a range of fields and identified several positions which are indicators of effective, persuasive body language.
(Bagaimana bisa Anda mengirimkan sinyal yang sama-dan harapannyamendulangkesuksesan yang sama? Di Center for Body Language, kami telah mempelajari pemimpin sukses di berbagai bidang dan mengidentifikasi beberapa posisi yang merupakan indikator bahasa tubuh yang efektif dan persuasif.)

The box
Early in Bill Clinton’s political career he would punctuate his speeches with big, wide gestures that made him appear untrustworthy. To help him keep his body language under control, his advisors taught him to imagine a box in front of his chest and belly and contain his hand movements within it. Since then, “the Clinton box” has become a popular term in the field.
(Di awal karir politik Bill Clinton, dia akan mengucapkan pidato-pidatonya dengan isyarat besar dan lebar yang membuatnya terlihattidak bisadipercaya. Untuk membantunya mengendalikan bahasa tubuhnya, penasehatnya mengajarinya untuk membayangkan sebuah kotak di depan dada dan perutnya dan berisi gerakan tangannya di dalamnya. Sejak saat itu, "kotak Clinton" telah menjadi istilah populer di lapangan.)

Holding the ball
Gesturing as if you were holding a basketball between your hands is an indicator of confidence and control, as if you almost literally have the facts at your fingertips hands. Steve Jobs frequently used this position in his speeches.
(Gesturseolah-olah sedang memegang bola basket di tangan Anda adalah indikator kepercayaan diri dan kendali, seolah-olah Anda hampir secara harfiah memiliki fakta di tangan Anda. Steve Jobs sering menggunakan posisi ini dalam pidatonya.)

Pyramid hands
When people are nervous, their hands often flit about and fidget. When they’re confident, they are still. One way to accomplish that is to clasp both hands together in a relaxed pyramid. Many business executives employ this gesture, though beware of overuse or pairing it with domineering or arrogant facial expressions. The idea is to show you’re relaxed, not smug.
(Saat orang gugup, tangan mereka sering bergerak serampangandan gelisah. Bila mereka percaya diri, tangan mereka akan diam. Salah satu cara untuk terlihat percaya diriadalah dengan menangkupkankedua tangan dalam bentuk piramida yang santai. Banyak eksekutif bisnis menggunakan isyarat ini, meskidemikianhati-hati terlalu sering menggunakan atau memasangkannya dengan ekspresi wajah yang dominan atau arogan. Idenya adalah untuk menunjukkan bahwa Anda santai, bukansombong.)

Wide stance
How people stand is a strong indicator of their mindset. When you stand in this strong and steady position, with your feet about a shoulder width apart, it signals that you feel in control.
(Bagaimana orang berdiri adalah indikator kuat dari pola pikir mereka. Bila Anda berdiri dalam posisi yang kuat dan mantap ini, dengan kaki terbuka selebar bahu, itu memberi sinyal bahwa Anda merasa memegang kendali.)

Palms up
This gesture indicates openness and honesty. Oprah makes strong use of this during her speeches. She is a powerful, influential figure, but also appears willing to connect sincerely with the people she is speaking to, be it one person or a crowd of thousands.
(Sikap ini menunjukkan keterbukaan dan kejujuran. Oprah memanfaatkannya dengan baik selama pidatonya. Dia adalah sosok yang hebat dan berpengaruh, tapi juga tampak tulus bersedia untuk terhubung dengan orang-orang yang dia ajak bicara, entahitu satu atau ribuan orang.)
The next time you give a presentation, try to have it recorded, then review the video with the sound off, watching only your body language. How did you stand and gesture? Did you use any of these positions? If not, think about how you might do so the next time you’re in front of an audience, or even just speaking to your boss or a big client. Practice in front of a mirror, then with friends, until they feel natural.
(Dipresentasi Anda selanjutnya, cobalah untuk merekamnya, lalu tinjau video dengan menon-aktifkan suara, hanya menonton bahasa tubuh Anda. Bagaimana Anda berdiri dan gestur yang Anda tunjukkan? Apakah Anda menggunakan salah satu posisi tersebut? Jika tidak, pikirkan bagaimanaagarAnda melakukannya kaliberikutnya Anda berada di depan audiens, atau bahkan hanya berbicara dengan atasan atau klien besar. Berlatih di depan cermin, lalu dengan teman, sampai terasa alami.)
Non-verbal communication won’t necessarily make or break you as a leader, but it might help you achieve more successful outcomes.
(Komunikasi non-verbal tidak akan membuat atau menghancurkan Anda sebagai pemimpin, tapi ini bisa membantu Anda mencapai hasil yang lebih berhasil.)
By : Kasia Wezowski - The Daily Harvard Business Review
Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.