Blog

MEMBANGUNKAN “THE KIDS IN US” LEWAT LEGO® SERIOUS FUN® (1)

Karyawan yang telah bekerja sekian tahun tentu pernah mendapatkan training atau pelatihan, baik formal maupun informal. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang taining dan people development, dengan pengalaman belasan tahun di bidang ini – ribuan days of training dan berjumpa puluhan ribu peserta – kami sangat paham bahwa pelatihan favorit mayoritas peserta adalah pelatihan informal. Atau dengan kata lain, pelatihan dengan metode yang lebih menyenangkan.

Malcolm Knowles dalam bukunya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species”, mencoba mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa, yang disebut dengan istilah “Andragogi”. Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Istilah ini awalnya digunakan oleh Alexander Kapp, seorang pendidik dari Jerman, pada tahun 1833, dan kemudian dikembangkan menjadi teori pendidikan orang dewasa oleh Knowles. Andragogi berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengarahkan orang dewasa dan berbeda dengan istilah yang lebih umum digunakan, yaitu pedagogi yang asal katanya berarti mengarahkan anak-anak. Pada intinya teori ini mengungkapkan bagaimana proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif dari peserta. Konsep pembelajaran andragogi ini merupakan kebalikan dari konsep pedagogi yang selama ini dipraktekkan.

Dalam mengembangkan konsep andragogi, Knowles mengembangkan 4 asumsi fundamental. Pertama, konsep diri. Asumsinya ialah bahwa kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (kondisi pada saat bayi) menuju arah pengembangan diri, sehingga mampu mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri.  Kemandirian inilah yang mengakibatkan orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan drinya sendiri (self determination) dan mengarahkan dirinya sendiri (self direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa mempunyai kebutuhan psikologis untuk menjadi manusia mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan – yang sifatnya hanya sementra. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti.

Ke dua, peranan pengalaman. Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman). Asumsinya adalah bahwa seiring waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman yang dijalaninya dalam hidup. Pengalaman yang terakumulasi menjadikan individu sebagai sumber yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan ia memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Konsep belajar ini dikenal dengan istilah “Experiential Learning Circle” (proses belajar bedasarkan pengalaman).

Ke tiga, kesiapan belajar. Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh paksaan akademis dan biologisnya. Kesiapan belajar selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peran sosialnya. Pada seorang anak, belajar lebih karena adanya tuntutan akademik atau biologis, sedangkan pada orang dewasa kesiapan belajar lebih karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi perannya sebagai pekerja, orang tua, atau pemimpin organisasi. Karena itu orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya.

Ke empat, orientasi belajar. Asumsinya adalah bahwa pada anak orientasi belajarnya sudah ditentukan dan dikondisikan berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa memiliki kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya, pada pemecahan masalah yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam kaitannnya dengan fungsi dan peran sosial.

Lalu jika pembelajaran orang dewasa dan anak disebut berbeda, mengapa lantas kami menyinggung tentang membangkitkan atau memunculkan (kembali) “the kids in us” alias sisi kanak-kanak dalam diri kita? Dan apa pula manfaatnya membangkitkan sisi kanak-kanak kita dalam pembelajaran?

Kita pernah menyinggung tentang metode LEGO® SERIOUS FUN® yang merupakan konsep anti mainstream dari yang selama ini ada di organisasi, yang begitu efektif memancing kreatifitas setiap partisipan. Dengan LEGO® sebagai tools nya, banyak orang bahkan mengira bahwa LEGO® SERIOUS FUN® merupakan program pembelajaran bagi anak-anak. Nyatanya metode belajar sambil bermain efektif diterapkan pada manusia dewasa, sebagai terobosan dalam dunia Androgogy. Artikel selanjutnya akan membahas lebih lanjut. (HWI)

 

By: BusinessGrowth

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.

International Partners