Your Brain Can Only Take So Much Focus (Otak Anda Hanya Bisa.....)
The ability to focus is an important driver of excellence. Focused techniques such as to-do lists, timetables, and calendar reminders all help people to stay on task. Few would argue with that, and even if they did, there is evidence to support the idea that resisting distraction and staying present have benefits: practicing mindfulness for 10 minutes a day, for example, can enhance leadership effectiveness by helping you become more able to regulate your emotions and make sense of past experiences. Yet as helpful as focus can be, there’s also a downside to focus as it is commonly viewed.
(Kemampuan untuk fokus merupakan pendorong penting keunggulan. Teknik yang terfokus seperti to-do list, jadwal, dan pengingat kalender semuanya membantu orang untuk tetap mengerjakan tugasnya. Hanya sedikit yang akan membantahnya, dan bahkan jika mereka membantah, ada bukti untuk mendukung pendapat bahwa menolak gangguan dan tetap fokus memiliki manfaat: melatih perhatian selama 10 menit sehari, misalnya, dapat meningkatkan efektivitas kepemimpinan dengan membantu Anda menjadi lebih mampu mengatur emosi Anda dan memahami pengalaman masa lalu. Namun, walau fokus bermanfaat, fokus juga memiliki kelemahan seperti yang umumnya dilihat.)
The problem is that excessive focus exhausts the focus circuits in your brain. It can drain your energy and make you lose self-control. This energy drain can also make you more impulsive and less helpful. As a result, decisions are poorly thought-out, and you become less collaborative.
(Masalahnya adalah fokus yang berlebihan menghabiskan sirkuit fokus di otak Anda. Ini bisa menguras energi Anda dan membuat Anda kehilangan kendali diri. Pengurasan energi ini juga bisa membuat Anda lebih impulsif dan kurang mau membantu. Akibatnya, keputusan dipikirkan dengan buruk, dan Anda menjadi kurang kolaboratif.)
So what do we do then? Focus or unfocus?
(Jadi, apa yang harus kita lakukan? Fokus atau tidak fokus?)
In keeping with recent research, both focus and unfocus are vital. The brain operates optimally when it toggles between focus and unfocus, allowing you to develop resilience, enhance creativity, and make better decisions too.
(Menurut penelitian terbaru, baik fokus dan tidak-fokus sangat penting. Otak bekerja dengan optimal saat beralih antara fokus dan tidak-fokus, memungkinkan Anda mengembangkan ketahanan, meningkatkan kreativitas, dan membuat keputusan yang lebih baik pula.)
When you unfocus, you engage a brain circuit called the “default mode network.” Abbreviated as the DMN, we used to think of this circuit as the Do Mostly Nothing circuit because it only came on when you stopped focusing effortfully. Yet, when “at rest”, this circuit uses 20% of the body’s energy (compared to the comparatively small 5% that any effort will require).
(Saat Anda tidak fokus, Anda menggunakan sirkuit otak yang disebut “Default Mode Network (mode jaringan standar)”. Disingkat DMN, tadinya kami berpikir sirkuit ini sebagai sirkuit Do Mostly Nothing (tidak melakukan apa-apa) karena hanya menyala dengan mudah saat Anda berhenti berfokus. Namun, saat "beristirahat", sirkuit ini menggunakan 20% energi tubuh (dibandingkan dengan 5% energi yang relatif kecil, yang dibutuhkan untuk usaha apapun).)
The DMN needs this energy because it is doing anything but resting. Under the brain’s conscious radar, it activates old memories, goes back and forth between the past, present, and future, and recombines different ideas. Using this new and previously inaccessible data, you develop enhanced self-awareness and a sense of personal relevance. And you can imagine creative solutions or predict the future, thereby leading to better decision-making too. The DMN also helps you tune into other people’s thinking, thereby improving team understanding and cohesion.
(DMN membutuhkan energi ini karena ia melakukan apapun – kecuali beristirahat. Di bawah radar sadar otak, DMN mengaktifkan ingatan lama, bolak-balik antara masa lalu, sekarang, dan masa depan, dan menggabungkan ulang ide yang berbeda-beda. Dengan menggunakan data baru yang sebelumnya tidak dapat diakses ini, Anda mengembangkan kesadaran diri dan perasaan relevansi pribadi. Dan Anda bisa membayangkan solusi kreatif atau memprediksi masa depan, sehingga mengarah pada pengambilan keputusan yang lebih baik pula. DMN juga membantu Anda menyesuaikan dengan pemikiran orang lain, sehingga meningkatkan pemahaman dan kohesi tim.)
There are many simple and effective ways to activate this circuit in the course of a day.
Ada banyak cara sederhana dan efektif untuk mengaktifkan sirkuit ini dalam sehari.
Using positive constructive daydreaming (PCD): PCD is a type of mind-wandering different from slipping into a daydream or guiltily rehashing worries. When you build it into your day deliberately, it can boost your creativity, strengthen your leadership ability, and also-re-energize the brain. To start PCD, you choose a low-key activity such as knitting, gardening or casual reading, then wander into the recesses of your mind. But unlike slipping into a daydream or guilty-dysphoric daydreaming, you might first imagine something playful and wishful—like running through the woods, or lying on a yacht. Then you swivel your attention from the external world to the internal space of your mind with this image in mind while still doing the low-key activity.
(Menggunakan Positive Constructive Daydreaming – lamunan konstruktif positif (PCD): PCD adalah jenis pengembaraan pikiran yang berbeda dari melamun atau memikirkan kekhawatiran. Bila Anda membangunnya dengan sengaja, PCD bisa meningkatkan kreativitas Anda, memperkuat kemampuan kepemimpinan Anda, dan juga mengisi ulang energi otak. Untuk memulai PCD, pilih aktivitas rendah seperti merajut, berkebun atau membaca santai, lalu mengembara ke dalam relung pikiran Anda. Tapi tidak seperti “tergelincir” ke dalam lamunan atau lamunan dysphoric, pertama-tama Anda bisa membayangkan sesuatu yang menyenangkan dan diharapkan – seperti berlari melintasi hutan, atau berbaring di kapal pesiar. Kemudian alihkan perhatian Anda dari dunia luar ke ruang internal pikiran Anda dengan bayangan ini dalam pikiran sambil tetap melakukan aktivitas rendah.)
Studied for decades by Jerome Singer, PCD activates the DMN and metaphorically changes the silverware that your brain uses to find information. While focused attention is like a fork—picking up obvious conscious thoughts that you have, PCD commissions a different set of silverware—a spoon for scooping up the delicious mélange of flavors of your identity (the scent of your grandmother, the feeling of satisfaction with the first bite of apple-pie on a crisp fall day), chopsticks for connecting ideas across your brain (to enhance innovation), and a marrow spoon for getting into the nooks and crannies of your brain to pick up long-lost memories that are a vital part of your identity. In this state, your sense of “self” is enhanced—which, according to Warren Bennis, is the essence of leadership. I call this the psychological center of gravity, a grounding mechanism (part of your mental “six-pack”) that helps you enhance your agility and manage change more effectively too.
(Dipelajari selama puluhan tahun oleh Jerome Singer, PCD mengaktifkan DMN dan secara metaforis mengubah silverware yang otak Anda gunakan untuk mencari informasi. Bila perhatian terfokus seperti garpu – mengangkat pikiran sadar yang jelas yang Anda miliki, PCD mengkomisi seperangkat silverware yang berbeda – sendok untuk menyendok cita rasa lezat dari identitas Anda (aroma nenek Anda, perasaan puas di gigitan pertama pai apel pada musim gugur), sumpit untuk menghubungkan gagasan melintasi otak Anda (untuk meningkatkan inovasi), dan sendok sumsum untuk masuk ke sudut dan celah otak Anda untuk mengambil kenangan lama yang hilang yang merupakan bagian penting dari identitas Anda. Dalam keadaan ini, perasaan "diri" Anda meningkat - yang menurut Warren Bennis, adalah inti kepemimpinan. Saya menyebut ini sebagai pusat gravitasi psikologis, mekanisme landasan (bagian dari "six pack" mental Anda) yang membantu Anda meningkatkan kelincahan dan juga mengelola perubahan dengan lebih efektif.)
Taking a nap: In addition to building in time for PCD, leaders can also consider authorized napping. Not all naps are the same. When your brain is in a slump, your clarity and creativity are compromised. After a 10-minute nap, studies show that you become much clearer and more alert. But if it’s a creative task you have in front of you, you will likely need a full 90 minutes for more complete brain refreshing. Your brain requires this longer time to make more associations, and dredge up ideas that are in the nooks and crannies of your memory network.
(Tidur siang: Selain membangun PCD, para pemimpin juga dapat mempertimbangkan tidur siang. Tidak semua tidur siang sama. Saat kondisi otak Anda merosot, kejernihan dan kreativitas Anda terganggu. Setelah tidur 10 menit, penelitian menunjukkan bahwa Anda menjadi lebih jelas dan lebih waspada. Tapi jika menghadapi tugas kreatif di depan Anda, Anda mungkin butuh 90 menit penuh untuk menyegarkan otak sepenuhnya. Otak Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat lebih banyak asosiasi, dan mengeruk gagasan yang ada di sudut dan celah jaringan memori Anda.)
Pretending to be someone else: When you’re stuck in a creative process, unfocus may also come to the rescue when you embody and live out an entirely different personality. In 2016, educational psychologists, Denis Dumas and Kevin Dunbar found that people who try to solve creative problems are more successful if they behave like an eccentric poet than a rigid librarian. Given a test in which they have to come up with as many uses as possible for any object (e.g. a brick) those who behave like eccentric poets have superior creative performance. This finding holds even if the same person takes on a different identity.
(Berpura-pura menjadi orang lain: Bila Anda terjebak dalam proses kreatif, tidak-fokus mungkin membantu saat Anda mewujudkan dan menjalani kepribadian yang sama sekali berbeda. Pada tahun 2016, psikolog pendidikan, Denis Dumas dan Kevin Dunbar menemukan bahwa orang-orang yang mencoba memecahkan masalah kreatif lebih berhasil jika mereka berperilaku seperti penyair eksentrik daripada pustakawan yang kaku. Dengan sebuah tes dimana mereka harus mencari sebanyak mungkin pemanfaatan objek apa pun (misalnya batu bata), mereka yang berperilaku seperti penyair eksentrik memiliki kinerja kreatif yang superior. Temuan ini berlaku bahkan jika orang yang sama mengambil identitas yang berbeda.)
When in a creative deadlock, try this exercise of embodying a different identity. It will likely get you out of your own head, and allow you to think from another person’s perspective. I call this psychological halloweenism.
(Saat dalam kebuntuan kreatif, cobalah latihan mewujudkan identitas yang berbeda ini. Kemungkinan akan mengeluarkan Anda dari pikiran Anda sendiri, dan membiarkan Anda berpikir dari perspektif orang lain. Saya menyebutnya psikologis halloweenisme.)
For years, focus has been the venerated ability amongst all abilities. Since we spend 46.9% of our days with our minds wandering away from a task at hand, we crave the ability to keep it fixed and on task. Yet, if we built PCD, 10- and 90- minute naps, and psychological halloweenism into our days, we would likely preserve focus for when we need it, and use it much more efficiently too. More importantly, unfocus will allow us to update information in the brain, giving us access to deeper parts of ourselves and enhancing our agility, creativity and decision-making too.
(Selama bertahun-tahun, fokus telah menjadi kemampuan yang dimuliakan di antara semua kemampuan. Karena kita menghabiskan 46,9% hari kita dengan pikiran kita yang mengembara jauh dari tugas yang sedang kita hadapi, kita menginginkan kemampuan untuk tetap bertahan dan mengerjakan tugas. Namun, jika kita membangun PCD, tidur siang 10- dan 90- menit, dan psikologis halloweenism pada hari-hari kita, kemungkinan kita akan memiliki fokus saat dibutuhkan, dan juga menggunakannya dengan lebih efisien. Lebih penting lagi, tidak-fokus akan memungkinkan kita untuk memperbarui informasi di otak, memberi kita akses ke bagian yang lebih dalam dari diri kita sendiri, juga meningkatkan ketangkasan, kreativitas dan pengambilan keputusan.)
By: Srini Pillay - The Daily Harvard Business Review
Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.