Speak Up Through LEGO® (2)
Ada anggota tim yang nyaris tidak pernah berkontribusi atau buka suara dalam rapat-rapat perusahaan. Ada pula pemimpin yang sulit mengkomunikasikan pikiran atau pendapatnya dengan gamblang. Beberapa orang bahkan merasa kesulitan memilih kata yang tepat untuk menyampaikan atau menjelaskan maksudnya. Padahal kemampuan komunikasi yang baik dan tepat merupakan keahlian yang paling dibutuhkan, hingga ke level pemimpin.
Satu artikel oleh Sunnie Giles di Harvard Business Review mencantumkan bahwa dua dari sepuluh kompetensi yang dinilai penting dimiliki seorang pemimpin terkait komunikasi. Putaran pertama dari studi terhadap 195 pemimpin di 15 negara dari 30 lebih organisasi global, meminta responden untuk memilih 15 kompetensi kepemimpinan paling penting dari daftar berisi 74 kompetensi. Kompetensi-kompetensi tersebut kemudian dikelompokkan atas lima tema utama yang menunjukkan serangkaian prioritas untuk pemimpin dan program-program pengembangan kepemimpinan. Jangan heran jika semuanya sulit untuk dikuasai, sebagian karena mengharuskan kita melawan pembawaan alami kita sebagai pribadi. Dua kompetensi komunikasi tersebut yaitu mengkomunikasikan harapan dengan jelas (56%) dan berkomunikasi dengan sering dan terbuka (42%).
Lalu bagaimana mungkin tim kita akan berkembang jika anggotanya takut mencoba segala sesuatu, termasuk takut mengemukakan pendapat? Takut menyampaikan hal yang menurut mereka tidak akan disukai oleh atasan. Takut “ditelan” hidup-hidup. Bayangkan jika rasa takut ini begitu mengakar di setiap lini. Ini berbahaya. Bagi perkembangan kita sebagai atasan, juga bagi perusahaan. Nokia sudah membuktikannya. Dalam laporan yang dicantumkan dalam SALAMANDER – majalah alumni INSEAD, edisi 28 Januari 2016, Quy Huy dan Timo Vuori mengawalinya dengan penjelasan dari Executive Nokia, tentang kejatuhan Nokia. Penelusuran lebih lanjut dengan menginterview 76 Top/Middle Managers, engineers dan pakar eksternal, diketahui bahwa “ketakutan” yang dialami perusahaan itu disebabkan oleh budaya middle manager yang tidak berani berbicara jujur. Middle manager tidak berani menchallenge keputusan Top Manager, sehingga senantiasa menjadi sosok “Yes Sir” yang tinggal diam atau memberikan informasi yang sudah difilter.
“Nokia people weakened Nokia people and thus made the company increasingly vulnerable to competitive forces.”. Ironis dan mengecewakan sekali jika pemimpin (perusahaan) besar yang justru menjadi salah satu contributor bagi performa tim yang menyedihkan.
.jpg)
Lantas bagaimana jika bawahan Anda atau bahkan Anda sendiri termasuk orang yang sulit mengutarakan pendapat alias Speak Up? Anda perlu mencoba “terapi” LEGO® Serious FUN®. Ketika tangan kita digunakan dalam belajar, proses yang rumit ikut andil dan menghasilkan muatan emosional yang kuat. Pikiran dan ide-ide yang dibangun dengan tangan kita cenderung diekspresikan secara lebih detil, lebih mudah dipahami dan diingat. Ide kita akan lebih lancar mengalir ke dalam rangkaian keping. Suatu hal yang secara verbal sulit dilakukan beberapa orang. Ini ibarat kita menyiapkan kerangka pikir atau outline sebagai panduan saat kita harus berbicara, menyampaikan ide atau pendapat. Dengan perasaan well prepared, semakin mudah untuk memulai keberanian berbicara, karena rasa percaya diri yang membesar. Tidak lagi merasa kehilangan kata atau tidak tahu harus memulai dari mana untuk menyuarakan pendapat. HWI
By BusinessGrowth
Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka.