Blog

Coaching? Untuk apa dan untuk siapa?

Setelah mengembangkan skill dan menjadi leader yang terbukti kemampuannya, hari-hari penuh kerja keras dan dedikasi, sudahkah Anda memberi reward bagi diri Anda sendiri? Mungkin cuti beberapa hari untuk mengajak keluarga terkasih berlibur atau sekedar “Me time” menghilangkan penat? Menjadi panutan, tumpuan, dan mentor team member (bahkan mungkin) juga rekan lain dan atasan, adalah prestasi yang membanggakan dan patut diapresiasi. After all, leader hebat yang menjadi andalan banyak orang layak mendapat sedikit kesenangan bagi diri sendiri. Bukan begitu?
 

Tengok saja salah seorang rekan kami dari perusahaan terdahulu, pemimpin baru departemen Customer Service bernama Joko. Dengan begitu padatnya tugas sepanjang tahun, ia tak lupa memasukan “me time” sebagai reward penambah semangat bagi dirinya. Liburan tahunan kali ini adalah Bali. Setelah meninggalkan catatan instruksi panjang, beliau berangkat sesuai rencana. Tapi yang tidak termasuk dalam rencananya adalah, bahwa ternyata ia“tidak bisa” absen dari kantor. Ada banyak orang yang kehilangan dan butuh arahannya. Bahkan sejak hari pertama, telepon selulernya tidak berhenti berdering. Staff dan rekan kerjanya bergantian menghubungi untuk menanyakan banyak hal, mengklarifikasi pekerjaan, hingga meminta arahan penyelesaian tugas dan masalah. Dan ini berlanjut hingga hari terakhir liburannya.

Dia bahkan sempat menggunakan nada tinggi menyatakan “Saya ini lagi cuti loh?!” – karena kesal saat entah untuk ke berapa kalinya menerima panggilan dari kantornya, dan menggeleng-geleng tak percaya, bagaimana bisa sulit sekali mencari waktu untuk dirinya sendiri. Begitu banyak orang antri untuk bertanya, sehingga rasanya tak ubahnya ia bekerja dari jauh. Raga liburan, kerja tetap jalan. Rekan kerja yang menghubungi pun merasa hasil kerja timnya kurang memuaskan dan sesungguhnya bisa menjadi lebih baik lagi bila ia yang turun tangan. Cutinya berubah menjadi bekerja dari suatu-tempat-selain-kantor. Sosok paling membanggakan di tempat kerja ternyata tak punya waktu untuk mengapresiasi dirinya sendiri.

Pernahkah Anda mengalami yang dialami rekan kami Joko? Kalau sedemikianlah kondisi Anda saat ini, Anda tentu leader dengan skill luar biasa dan layak dipromosikan. Tapi pertanyaannya, apakah lantas Anda bisa promosi? Dengan kondisi seperti itu, apakah Anda bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi? Bayangkan kalau Anda menjadi pimpinan Anda. Ketika Anda melihat anak buah Anda sebagai seorang pemimpin satu-satunya yang paling hebat dalam teamnya, apakah Anda akan mempromosikan dia ke tempat yang lebih tinggi? Atau jangan-jangan Anda justru kuatir bila dia dipromosikan, maka teamnya yang sekarang akan turun prestasinya? Team masih sangat membutuhkan Anda, jadi posisi Anda sekarang sudah paling tepat untuk menjaga prestasi team Anda. Karena itu, tetaplah Anda di posisi sekarang, sampai ada orang lain yang bisa menjadi minimal sama bagusnya dengan Anda. Setuju?

Jika itu yang terjadi, maka bagi kami itu adalah kisah tragis. Bekerja siang dan malam – di kantor dan di rumah, sakit pun masih terus dicari pekerjaan (dan dibela-belain tetap kerja), namun ternyata promosi tidak kunjung tiba. Itulah gambaran yang terjadi kalau kita terlalu hebat di tempat kerja, sampai lupa untuk menciptakan kader atau suksesor kita. Lupa untuk mengembangkan orang lain di dalam tim kita yang akan siap menggantikan kita suatu saat nanti.

Dulu, pemimpin yang berhasil seringkali dicitrakan sebagai satu-satunya orang yang paling hebat di tempatnya. Dia menjadi hebat kalau bisa mengalahkan ketrampilan semua orang di teamnya. Untuk menjadi hebat, dia harus mengalahkan orang lain, menjatuhkan orang lain, sehingga dia makin menonjol. Kehebatannya makin didengar oleh atasan, dan dia makin bersinar. Kalau kita masih berpikir demikian, jangan-jangan kita termasuk orang yang mindsetnya gagal update? Walaupun tubuh kita berada di era sekarang namun pemikiran kita masih berada di jaman sebelum tahun 80-an. Karena jaman sekarang citra pemimpin yang hebat sudah jauh berubah.

"True leaders don't create followers, they create more leaders.". Pemimpin dicitrakan hebat ketika dia mampu mencetak kader-kader yang hebat, bahkan lebih hebat dari dirinya. Pemimpin dicitrakan hebat ketika dia bisa cuti tanpa diganggu, ikut training tanpa dicari-cari, dan mampu mengerjakan hal-hal yang lebih strategik tanpa terus direpotkan oleh pekerjaan rutin yang bisa ditangani anak buahnya. Pemimpin yang hebat tidak terus menerus bersusah hati karena merasa tidak puas dengan begitu banyak hasil kerja team membernya. Juga tidak selalu dibuat stress oleh pekerjaan, akibatgatal ingin turun tangan sendiri. Semakin dia tidak diganggu anak buahnya, maka orang akan mempersepsikannya telah berhasil mencetak orang-orang hebat di bawahnya yang bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mereka sendiri dengan hebat. Pemimpin seperti ini siap untuk menduduki posisi yang lebih tinggi lagi. Dia mencetak orang-orang hebat di bawahnya yang akan mengangkatnya untuk naik lebih tinggi lagi.

Dikutip dari “Coaching for Result: Unlocking Human Potential to Achieve Organization’s Performance”, Penulis: Berny Gomulya, Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan BusinessGrowth Team, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018”

 

By: BusinessGrowth

 

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners