Blog

How to Give the Same Talk to Different Audiences (Bagaimana Menyampaikan Pembicaraan......)

If you’re asked to speak at a conference or event, it’s likely because you’ve demonstrated expertise in your particular subject. To provide a great experience for attendees, you generally want to focus on the topic the organizers have requested – the “greatest hits” that you’re known for. But you’ll run into trouble if you give the same speech verbatim every time: your material will resonate much better with some audiences than others, and some may have heard your remarks before and get bored with the exact repetition.
(Jika Anda diminta untuk berbicara di suatu konferensi atau acara, mungkin itu karena Anda telah menunjukkan keahlian dalam subjek tertentu. Untuk memberikan pengalaman yang luar biasa pada para peserta, Anda biasanya ingin fokus pada topik yang diminta oleh penyelenggara - “greatest hits” yang membuat Anda dikenal. Tetapi Anda akan mendapat masalah jika memberikan ucapan yang sama setiap saat: materi Anda akan beresonansi dengan lebih baik bagi beberapa audiens dibanding yang lain, dan beberapa orang mungkin telah mendengar komentar Anda sebelumnya dan bosan dengan pengulangan yang tepat sama.)

So how can you strike the right balance and effectively deliver a similar talk to different audiences? As a professional speaker who delivers between 30-50 paid keynotes per year, here are three strategies I’ve discovered that can help you craft a successful talk that resonates with diverse attendees.
(Jadi, bagaimana Anda dapat mencapai keseimbangan yang tepat dan secara efektif menyampaikan materi serupa kepada audiens yang berbeda? Sebagai pembicara profesional yang memberikan antara 30-50 ceramah berbayar per tahun, berikut adalah tiga strategi yang saya temukan yang dapat membantu Anda menciptakan pembicaraan sukses yang sesuai dengan beragam hadirin.)

First, it can be helpful to envision the sections of your speech as “modules” that you can shift and reshuffle as needed. When I was working as a high-level communications staffer on a presidential campaign, I realized that the candidate I worked for had standard “bits” that he’d use in his stump speeches — essentially, paragraph-long monologues about certain topics, like making higher education more affordable or his plans for Medicare reform.
(Pertama, akan sangat membantu jika membayangkan bagian-bagian dari pidato Anda sebagai "modul" yang dapat Anda pindah dan ubah sesuai kebutuhan. Ketika saya bekerja sebagai staf komunikasi tingkat tinggi dalam kampanye presidensial, saya menyadari bahwa saya bekerja dengan kandidat yang memiliki "bits" standar yang akan dia gunakan dalam pidato pokoknya - intinya, monolog sepanjang paragraf tentang topik tertentu, seperti membuat pendidikan tinggi lebih terjangkau atau rencananya untuk reformasi Medicare.)

Over time, he became exceptionally comfortable with these well-rehearsed modules, and could fall back on them when he was giving a speech or responding to questions. But he’d also reshuffle them frequently to suit the needs of the audience — and to ensure he didn’t get bored with his own material, even though he was giving up to six talks a day. Thinking of your speech not as one undifferentiated whole, but instead as 12-15 segments of a few minutes apiece, can enable you to envision new ways to swap out or reorder your talk to better suit the circumstances.
(Seiring waktu, ia menjadi sangat nyaman dengan modul-modul yang terlatih dengan baik ini, dan bisa kembali lagi ke materi ini ketika memberikan pidato atau menanggapi pertanyaan. Tetapi dia juga sering merombaknya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan penonton - dan untuk memastikan dia tidak bosan dengan materinya sendiri, meskipun dia memberikan hingga enam sesi per hari. Anggap pidato Anda bukan sebagai satu kesatuan yang tidak dibedakan, melainkan sebagai 12-15 segmen beberapa menit, memungkinkan Anda untuk membayangkan cara baru untuk menukar atau mengatur ulang pembicaraan Anda agar lebih sesuai dengan keadaan.)

Second, it’s important to have a thorough understanding of your audience in advance of the talk. This can easily be accomplished via email or a quick phone conversation with the organizer. You’ll want to find out relevant demographic and psychographic information, so you can choose the modules that most directly apply to attendees’ life situation. It’s worth finding out whether there is a typical age or gender for the attendees (for instance, if it’s an event for female executives, or for recruits straight out of college), and any commonalities in geography, functional role, industry, etc.
(Kedua, penting untuk memiliki pemahaman menyeluruh tentang audiens Anda sebelum pembicaraan. Ini dapat dengan mudah dilakukan melalui email atau percakapan telepon singkat dengan penyelenggara. Anda akan ingin mengetahui informasi demografis dan psikografis yang relevan, sehingga Anda dapat memilih modul yang paling langsung sesuai untuk situasi kehidupan peserta. Penting untuk mengetahui apakah ada usia atau jenis kelamin yang khas untuk peserta (misalnya, jika itu adalah acara untuk eksekutif wanita, atau untuk perekrutan langsung setelah lulus kuliah), dan kesamaan dalam geografi, peran fungsional, bidang pekerjaan, dll.)

For instance, when I’m speaking in a certain city, I’ll often highlight people I’ve featured in my books who are from that area, so that attendees can easily connect with the examples. Similarly, if you’re addressing a group of newly promoted managers, you can make a point of emphasizing stories about people in that situation, or who have recently reinvented themselves or changed jobs in general.
(Misalnya, ketika saya berbicara di kota tertentu, saya akan sering menyoroti orang-orang yang telah saya tampilkan di buku-buku saya yang berasal dari daerah itu, sehingga peserta dapat dengan mudah terhubung dengan contoh-contoh tersebut. Demikian pula, jika Anda berbicara dengan sekelompok manajer yang baru dipromosikan, Anda dapat menekankan cerita tentang orang-orang dalam situasi itu, atau yang baru-baru ini mengubah diri atau mengubah pekerjaan secara umum.)

Finally, another crucial element in modifying your talk for different audiences is clarifying your client’s desired outcome. Conference organizers are not hiring you to fill a 60-minute slot; there are plenty of cheaper ways to do that. Instead, they’re typically seeking a specific outcome, such as helping their employees learn to become more entrepreneurial or ensuring that senior leaders are conversant with artificial intelligence trends. With those goals in mind, you can choose which modules from your standard presentation to include, and whether you need to develop bespoke material to augment it.
(Akhirnya, elemen penting lainnya dalam memodifikasi pembicaraan Anda untuk audiens yang berbeda adalah memperjelas hasil yang diinginkan klien Anda. Penyelenggara konferensi tidak mempekerjakan Anda untuk mengisi slot 60 menit; ada banyak cara yang lebih murah untuk melakukan itu. Sebaliknya, mereka biasanya mencari hasil yang spesifik, seperti membantu karyawan mereka belajar untuk lebih tahu kewirausahaan atau memastikan bahwa para pemimpin senior memahami tren kecerdasan buatan. Dengan tujuan tersebut, Anda dapat memilih modul mana dari presentasi standar Anda yang akan dimasukkan, dan apakah Anda perlu mengembangkan materi “pesanan” lebih dulu untuk menambahnya.)

For instance, one pharmaceutical company that booked me for a keynote last year wanted me to incorporate elements of a talk on innovation that I frequently give. However, they also wanted me to emphasize the importance of collaboration, because they knew that in their corporate culture, new ideas wouldn’t thrive without cooperation across functional areas. As a result, I drew heavily on my standard talk, but also created some additional new material especially suited to their situation, and the talk was a success.
(Misalnya, satu perusahaan farmasi yang memesan saya untuk menjadi pembicara utama tahun lalu, ingin saya memasukkan unsur-unsur pembicaraan tentang inovasi yang sering saya berikan. Namun, mereka juga ingin saya menekankan pentingnya kolaborasi, karena mereka tahu bahwa dalam budaya perusahaan mereka, ide-ide baru tidak akan berkembang tanpa kerja sama di berbagai bidang fungsional. Sebagai hasilnya, saya sangat menarik di pembicaraan standar saya, tetapi juga menciptakan beberapa materi tambahan baru yang sangat cocok dengan situasi mereka, dan pembicaraan itu sukses.)

When you’re invited to give a speech, you have to deliver a relatively standard message honed through your years of knowledge and expertise, while also modifying it just enough to make it relevant to that particular audience. By following these strategies, you can strike an appropriate balance and deliver uniquely valuable information to your listeners.
(Ketika Anda diundang untuk memberikan pidato, Anda harus menyampaikan pesan yang relatif standar yang diasah melalui pengetahuan dan keahlian Anda selama bertahun-tahun, sambil juga memodifikasinya agar cukup relevan dengan audiens tertentu itu. Dengan mengikuti strategi ini, Anda dapat mencapai keseimbangan yang tepat dan memberikan informasi yang berharga unik pada para pendengar Anda.)

 

By: Dorie Clark - The Harvard Business Review

 

Untuk info pelatihan (training), jadwal pelatihan (training), managerial training, tempat pelatihan (training), training for trainers, dan pelatihan (training) programs lain, silakan hubungi kami, BusinessGrowth, lembaga training Indonesia terkemuka. 

International Partners