Blog

Bagaimana kalau saya tidak memiliki waktu untuk Coaching (?)

“Saya mengerti coaching memang penting, tetapi pekerjaan yang lainnya membuat saya tidak punya waktu untuk coaching.”

Nah! Ini kalimat keramat, nih. Hampir semua atasan pernah mengungkapkan kalimat senada. “Coaching dengan melibatkan anak buah dalam percakapan memakan waktu lebih lama ketimbang langsung memberikan solusi. Dan pekerjaan saya tentunya bukan hanya coaching. Masih banyak pekerjaan penting lainnya yang lebih membutuhkan waktu saya!”. Tenang, Anda tidak sendiri. Banyak pemimpin juga memiliki beban pekerjaan yang berat seperti Anda. Tapi, coba bayangkan seperti ini: Kita tidak memiliki waktu untuk coaching. Apakah anak buah akan mampu bila tidak pernah kita coaching? Tentu kurang. Apabila anak buah kurang mampu, apakah kita akan memberikan trust kepada dia untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan penting? Belum tentu. Akibatnya? Banyak pekerjaan terpaksa kita lakukan sendiri, sehingga ujung-ujungnya kita akan semakin kekurangan waktu bahkan untuk diri kita sendiri. 

Anda VS Team Member : Yakin Sudah Coaching?

Suatu ketika kami sedang membantu dua buah group perusahaan besar melakukan merger. Kami mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan beberapa kelompok atasan dan beberapa kelompok bawahan untuk mengetahui culture yang ada di perusahaan masing-masing. Pada group pertama, para atasan, salah satu pertanyaan yang kami ajukan adalah, “Apakah Bapak/Ibu atasan telah melakukan coaching di tempat kerja Bapak/Ibu?”, dan hampir semua menjawab “Sudah”. Mereka bahkan berkata, “Coaching sudah menjadi budaya dimana kita para atasan sudah sering melakukan coaching kepada anak buah.”. Selesai dari FGD atasan, kami melanjutkan memfasilitasi group bawahannya. Pertanyaan yang sama kami ajukan kepada mereka, “Apakah Bapak/Ibu menerima coaching dari atasan Bapak/Ibu?”. Dan menarik sekali ternyata jawabannya adalah, “Tidak ... kami jarang sekali di coaching oleh atasan kami. Kami hampir tidak pernah coaching dengan atasan. Coaching sama sekali bukan merupakan budaya disini.”. Jawaban ini berbeda dengan jawaban yang kami dapatkan dari group para atasan. Karena itu di keesokan harinya pada saat kami berkesempatan bertemu dengan group atasan kembali, maka kami menanyakan, “Menurut Bapak/Ibu atasan,coaching sudah sering sekali Anda lakukan di tempat kerja. Tetapi anehnya anak buah Anda tidak merasakannya. Bagaimana bisa demikian?”. Lalu para atasan dengan spontan menjawab,“Bagaimana mungkin mereka merasa belum dicoaching? Setiap hari saya sudah memberikan masukan kepada mereka, menemani mereka kunjungan, memberikan nasihat kepada mereka bahkan mengomeli kalau mereka salah. Dan mereka masih belum merasa di coaching?”.

Coaching dan Kinerja Bisnis

Bisakah Anda bayangkan bagaimana karyawan bekerja di bawah beragam tekanan? Atau, mari coba mengingat tekanan yang pernah kita rasakan di awal meniti karir. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat, kemacetan jalan raya yang kian parah, persoalan antar pribadi di tempat kerja, dan sebagainya. Akan lebih terasa menguras energi dan kewarasan bila tidak ada sosok tempat berkeluh kesah dan meminta bantuan. Tekanan yang semakin tinggi pasti akan berdampak serius pada stress di tempat kerja bila tidak segera diatasi. Perusahaan yang mengabaikan permasalahan ‘sepele’ tersebut akan terganggu di kemudian hari.

International Partners