Blog

Meningkatkan Komitmen Kerja Karyawan dengan Coaching

Pernah melihat (atau mungkin mengalami sendiri) saat mainan anak berceceran di lantai? Melihat itu orang tua biasanya akan marah dan menyuruh anaknya untuk membereskan. Dan layaknya anak-anak, bukannya langsung menuruti perintah, dia justru mengabaikan, melanjutkan kesibukannya sendiri, dan kemungkinan menunggu reaksi Anda. Jika orang tua frustrasi karena pemintaan itu tidak juga dikerjakan, sangat mungkin (bahkan sering) terjadi si orang tua langsung membereskan mainan tersebut. Dia tidak sadar, dari satu contoh tersebut,berikutnyasi anak tidak akan napernah menanggapi teguran yang sama dengan respon yang diminta.
 

Coaching? Untuk apa dan untuk siapa?

Setelah mengembangkan skill dan menjadi leader yang terbukti kemampuannya, hari-hari penuh kerja keras dan dedikasi, sudahkah Anda memberi reward bagi diri Anda sendiri? Mungkin cuti beberapa hari untuk mengajak keluarga terkasih berlibur atau sekedar “Me time” menghilangkan penat? Menjadi panutan, tumpuan, dan mentor team member (bahkan mungkin) juga rekan lain dan atasan, adalah prestasi yang membanggakan dan patut diapresiasi. After all, leader hebat yang menjadi andalan banyak orang layak mendapat sedikit kesenangan bagi diri sendiri. Bukan begitu?
 

Memberdayakan Karyawan Dalam Perusahaan

Kita hidup dalam sebuah sistem. Dalam sistem itu terdapat saling keterkaitan antar individu, individu dengan kelompok, dan sebaliknya. Semua aksi dalam sistem membentuk dinamika yang memperkuat dirinya. Sistem tersebut membentuk sebuah keseimbangan dimana pola perilaku satu pihak mendukung pihak lainnya. Mary Beth O’Neil menggambarkan dinamika sistem tersebut dengan dua anak panah yang saling memperkuat satu sama lain. Pihak-pihak dalam anak panah itu bisa orang tua dengan anak atau Anda dengan bawahan Anda, dua orang rekan kerja, atau siapapun yang saling berelasi. Kita akan kembali ke contoh relasi antara orang tua dengan anak.

International Partners