Blog

Create a Culture Where Difficult Conversations Aren’t So Hard (Menciptakan Budaya......)

I worked as a consultant for many years before becoming the CEO of Red Hat. One of the most surprising aspects of that work was that people would open up to me, an outsider, about all the elephants in the room — but they were too polite or embarrassed to call out the obvious issues or blame their peers inside their own organizations. My fellow consultants and I would sometimes joke that just about every individual inside a company could immediately tell you what was going wrong and what needed fixing. But whenever everybody convened for a meeting to point out those very issues, you wouldn’t hear a peep about anything that could be perceived as negative. To our amazement, they were more open to hearing feedback from us, the outsiders, than from their own colleagues.

(Saya bekerja sebagai konsultan selama bertahun-tahun sebelum menjadi CEO Red Hat. Salah satu aspek paling mengejutkan dari pekerjaan itu adalah orang-orang akan terbuka pada saya, “orang luar”, tentang segala hal besar di ruangan itu - tapi mereka terlalu sopan atau malu untuk menyebutkan masalah yang jelas atau menyalahkan teman di dalam organisasi mereka sendiri. Rekan sesama konsultan dan saya terkadang berkelakar bahwa hampir setiap individu di dalam perusahaan bisa langsung memberi tahu Anda apa yang salah dan apa yang perlu diperbaiki. Tapi setiap kali berkumpul untuk menunjukkan masalah tersebut, Anda tidak akan mendengar apapun yang bisa dianggap negatif. Yang membuat kami takjub, mereka lebih terbuka mendengar tanggapan dari kami, orang luar, daripada rekan mereka sendiri.)

Why Service?

Dikutip dari intisari-online.com, sensus dari Biro Statistik Amerika Serikat menemukan jumlah pengusaha yang bangkrut lebih banyak dari mereka yang baru memulai usaha. Seperti dilansir CNBC, ada 10 penyebab umum bisnis bangkrut, dan salah satunya adalah kebangkrutan karena kualitas pelayanan. Terdata hingga 66% konsumen beralih ke perusahaan baru karena kualitas pelayanan. Lebih buruk lagi, 82% dari perusahaan merasa bisa melakukan sesuatu untuk mencegah mereka beralih ke produk lain. Sebagian besar pengusaha hanya khawatir dengan kompetitor yang berasal dari sektor yang sama dengan mereka. Namun mereka kerap meremehkan pendatang baru, mereka menganggap remeh kompetisi. David Goldin, dari AmeriMerchant, menyebut fenomena ini dengan "Owner syndrome", dimana pemimpin menganggap produk merekalah yang terbaik. Akan menjadi kombinasi terburuk bila juga melupakan kenyataan bahwa kompetisi bisnis kini mulai bergeser bukan sekedar lagi tentang produk, tetapi tentang pelayanan terbaik.
 

MEMBANGUNKAN “THE KIDS IN US” LEWAT LEGO® SERIOUS FUN® (2)

Metode LEGO® SERIOUS FUN® merupakan konsep pembelajaran komplit, yang efektif melibatkan dan memancing kreatifitas setiap partisipan. Walaupun banyak orang mengira bahwa LEGO® SERIOUS FUN® merupakan program pembelajaran bagi anak-anak – karena menggunakan LEGO® sebagai tools nya, kenyataannya metode belajar sambil bermain efektif diterapkan pada manusia dewasa. Metode LEGO® SERIOUS FUN® menggabungkan konsep pembelajaran dewasa Andragogy dengan pembelajaran fun ala anak.

International Partners